BERSAHABAT DENGANMU

(kado untuk sahabat)

Bersahabat denganmu layaknya sampan berhias cadik
Aku mungkin hanya pantas sebagai lempengan kayu:
Pembuat sampan: salah satu kayu yang terendam
Sampannya kau dan sahabatmu
Cadiknya adalah budi baikmu yang sulit terlupakan

Kau sangat baik untuk disebut bulan untuk malam
Pantasnya: entahlah
Tak ada keindahan yang pantas rasanya untuk kebaikan
Yang kau beri untuk seluruh sahabatmu
Kaulah tinta berwarna yang melumuri seluruh air laut putih
Merubahnya menjadi emas

Bersahabat denganmu layaknya pohon dengan rerantingan
Daun-daun kecil bertumbuhan dan merindang
Aku hanya pantas sebagai ranting kecil yang patah ditiup angin senja saja
Diantara jutaan ranting lainnya yang indah

Aku mengenalmu dengan sangat menyesal
Menyesal karena terlambat mengenalmu
Aku ingin mengenalmu lebih awal lagi
Jauh dari masa benar aku mengenalmu

Aku mengenalmu dalam sebuah sore akan senja
Dan aku menikmatinya

Aku tak lupa pada had-had yang seharusnya aku tak lupa
Tak kuucap: sengaja, agar kau pikir kulupa
Baya kita telah tua, kawan
Akh, tak pantas kau kusebut kawan:
Pantasnya: sahabat
Teruslah menguntum menjadi mawar dan menampung tetes embun kedamaian

Ucapanku mungkin hanya pantas sebagai pengisi keranjang sampah
Akh, tak lah
Puisiku untuk hari bahagiamu yang ke 21
Tanda aku tak lupa had itu

11 April 2010
Nazar Shah Alam
sumber: Harian Aceh-19 Mei 2010