Galau

Oleh Nazar Shah Alam

Hatinya sedang galau. Telinganya disapa bisik-bisik angin sengau. Diantara pala-pala yang berjejer tak beraturan, dia tertunduk lesu tanpa suara. Matanya yang dipenuhi air-air luka disembunyikan diantara kedua paha yang diikat erat dengan kedua tangannya yang bersilangan. Hatinya sedang gebalau, angin yang kian kuat mengacak-acak rambutnya dirasakan begitu saja. Tadi dia lari dari rumahnya, membawa hati yang bergetar dan perlahan terasa luruh.

Kebun pala milik keluarganya menjadi tempat untuk menyembunyikan luka-luka hatinya kini. Perlu menaiki gunung dan melewati tebing-tebing curam untuk mencapai tempat itu. Tapi dia berlari, tak henti kakinya menantang tinggi pegunungan, kakinya berdarah menginjak-injak bebatuan tajam di sepanjang pelariannya. Tak sakit memang, karena hanya lara dan cinta saja yang bisa mengubah-ubah rasa. Bedanya, lara mengubah perih menjadi kebal rasa, sementara cinta mengubah luka menjadi keindahan.

Hatinya mengutuk nasib yang telah tergaris di azali, ditarik-tarik rambutnya yang tidak begitu panjang itu. Badannya yang kurus dilekatkan pada batang pala sebesar betis orang dewasa yang berdiri di balik balok besar yang terbentang di sisi jalan gunung. Semak belukar yang menutup kebun itu menghalangi pandang mata siapa saja yang ingin mencari sesuatu dibaliknya.

Begitu luruh hatinya, tak lagi dihirau matahari yang kian hilang ditelan senja, langit di atasnya kian hitam, tak ada tanda-tanda malam akan berbulan, berbintang. Hatinya kian gebalau, alam berkunang-kunang, senja ditelan malam.

***

Jangkrik telah menyanyikan serenade kelam, kian sunyi saja suasana. Afzhal, tadi siang dia masih tersenyum dan tertawa dengan teman-teman sebaya, sepermainannya. Namun lara kemudian dengan cepat mencegat bahagianya, duka membalut diri di seluruh tubuhnya. Tak mampu ditahan remuk hatinya, tak mampu ditatap mata teduh penuh cinta lelaki tampan yang terbaring tadi di depannya. Mata teduh itu telah tertutup, berhenti berkedipan damai seiring napas yang jua telah tak mau keluar.

Tubuh kekar itu sebentar lagi akan hilang dipeluk tanah hitam. Senyumnya telah hilang bersama nyawanya yang telah pulang. Pulang lelaki itu memenuhi panggilan tuhan, jiwa Afzhal tak pernah menerimanya. Ayahnya telah pulang bersama senyum-senyumnya.

Semak berjeruji itu perlahan ramai dengan suara manusia, kelampun perlahan terganti dengan nyala suwa dan sulôh mereka yang mencari-cari Afzhal. Beberapa orang sempat melihat dia berlari tadi.

“Mungkin dia telah dibawa jin.” Seseorang berbisik pada temannya

“Huss, jangan bilang-bilang begitu, kasihan mamaknya.” Temannya menyanggah

“Semoga dia tidak apa-apa.” Yang lain bergumam

Hutan kian berisik, sesaat terdengar panggilan dari satu arah,”Dia disini… wooi, dia disini..”. semua berlari kearah suara. Terlihat mamak Afdhal terseok-seok, menguak kerumun semua orang di depannya.

Afzhal belum melepas silangan tangannya, kepalanya masih tersembunyi diantara kedua paha. Ratapan ibunya membuncah, dipeluknya Afzhal dengan rasa takut kehilangan.

“Dia masih hidup, jangan berlama-lama lagi kita disini. Mungkin ada makhluk halus yang masuk masuk ke tubuhnya. Bawa pulang saja dia.” Seseorang berkomentar

Afzhal digotong warga. Menjauh, kian jauh dari kebun pala yang tenang yang sesaat menampung elegi hati Afzhal, dan jangkrik-jangkrik kian indah bernyanyi, pepohonan terdiam, memang benar, masing-masing telah tergaris di takdir Tuhan.[]

sumber: harianaceh.com