Moulud

oleh: Nazar Shah Alam

KUTAPAKI ruas jalan kampung dengan aspal yang supak supak. Sasaranku umah pakcik Ubat. Makcik Nurman sedang bekerjasama umi sedang menyiapkan idang maulid. Ayah dan pakcikku pergi ke kota untuk membeli ikan tongkol berukuran besar. Juadah sudah teronggok di balai depan rumah. Dua hiding, satu untuk kami satu lagi milik pakcik Ubat. Pucuk juadah hampir menyentuh atap balai kecil itu. Tampak adik adik sepupuku duduk seakan menjaga, namun menunggu silap diam diam mereka menyubiti tumpoe yang melilit di kaki idang.
Aku dipanggil untuk melihat api leumang, karena Emak sedang sibuk membungkus bu leukat dan mengisi gelas gelas dalam talam dengan ikan dan lelauk yang dipagar dengan kotak melingkar di atasnya. Di ruang kotak melingkar di tengah talam itu diletakkan beberapa bu leukat Seorang gadis remaja yang libur sekolah melintas sembari menjinjing sekeranjang ketupat belum dimasak, di belakangnya ada adik lelakinya yang memikul karung berisi beberapa potong buluh leumang. Terlihat adiknya susah payah menyeimbangkan posisi karung buluh yang tak terikat itu. Dalam jeda mengusir asap lemang, aku melempar senyum buat si gadis dan ia malu malu sambil berlalu.

Maulid di kampung kami seperti lebaran ketiga meriahnya. Paham orang orang tua kampung ini peringatan kehaliran yang jadi mukjizat. Barang siapa memuliakannya akan diberikan rahmat yang dahsyat. AAbu Jahal aja ditiupkan angin surga tiap hari kelahiran Nabi kita begitu kata Nekgam menjawab pertanyaan kami anak anak. ATapi kenduri itu ya mesti ikhlas, yong. Timpal Nek Gam mengumbar senyum kecil sambil berlalu.

Jelang siang semua warga mengantar idang ke masjid. Tangan kanan menjinjing teko air, tangan kiri memegang talam besar yang diletakkan di kepala. Juadah dibawa dengan becak dayung tanpa bubung. Anak anak berarak di samping becak, sesekali mendorong becak kalau ada jalan yang berat untuk dilewati. Seperti biasanya, undangan menyicipi makanan maulid meliputi tujuh kampung. Tiga kampung sebelah barat kampung kami, empat kampung sebelah timur. Selalu tercukupi biasanya.

Dikee pun membahana. Meriah dan jadi pemandangan unik. Tua muda bergumul dalam dua barisan berhadap hadapan di tiap jamboe. Penjual makanan kecil mengambil berkah, dengan kelapa muda dan tebu potong digantung di sepanjang balok pembatas. Nantinya ketika mereka sudah capai meudikee mereka akan berebutan mengambil kelapa dan tebu itu. Dikee kemudian berhenti ributnya ketika teungku membaca rawi barzanji. Semua peserta pun berdiri, dan dikee sambil berdiri makin bergemuruh daripada saat duduk.

Pezikir berangkulan dan membentuk lingkaran, berputar putar di dalam jamboe sambil mendendangkan salawat.  Hanya bait bait itu itu saja yang diulang ulang dan suara kian meninggi. Shalawat berhenti saat mereka saling terlepas dari rangkulan. Tiba masanya nasi moulud dibagikan. Mulailah saling berebutan sampai penuh kantong plastic untuk dibawa pulang ke rumah.

Talam talam yang kosong kini diambil kembali pemiliknya. Juadah tinggi tinggi sudah kosong  dibagikan kepada tamu maulid. Dan kampung kami pun kembali ke keteduhannya, diam bagai tak terjadi apa apa. Ayah, pakcik Ubat, Umi,dan Makcik Nurman duduk di teras rumah kami dengan hanya berwajah sangat bangga hingga menunggu Moulud tahun depan lagi

Darussalam, 27 Februari 2010

http://www.serambinews.com/news/view/25603/moulud