DI LANGIT SENJA BERBIANGLALA

oleh: Nazar Shah Alam

SEJAK perpisahan itu, hati Mikawali bagai mati separuh, terpuruk dalam kesedihan panjang. Berkali-kali ia memanjat dinding rumahnya untuk dapat duduk melepas galau di atap. Ia tenang kala melihat gugusan bintang, gumpalan-gumpalan awan berarak hilang menyemburkan cahaya bulan dan kerlip bebintangan atau yang menghitam menitiskan butir-butir hujan, langit kelabu yang tak tentu antara ada dan tiadanya purnama, alam cerah tapi tak bercahaya apa-apa, ia tenang sekali dalam suasana itu. Tapi, jika ia telah beranjak dari tempat itu karena pagi mulai menyelinap lewat rimbunan daun mangga, maka hatinya gemuruh lagi. Mikawali, jiwa sepi yang dikerubuti oleh mimpi. Ia begitu ribut di depan semua temannya, namun sebenarnya jiwanya diam dan merasa indah dalam sunyi. Mikawali sering menatap ilalang di satu padang luas, berdiri sembari merentangkan kedua tangannya, angin menyapu tubuhnya. Ia memejamkan matanya yang sebelah cipit hingga cahaya tak begitu paduh. Beberapa helai bunga ilalang terbang menerpa wajahnya.

Mikawali membunuh kegamangan di atas atap dan padang ilalang. Sebab di situlah suatu senja berpurnama-purnama lalu pernah bertemu seorang gadis. Di senja abu-abu, alam berkabut tebal, hujan mulai menitis satu-satu, si gadis nampak sedang termangu di antara ilalang hijau kehitaman. Ia duduk pada sebuah bangku  panjang di bawah rindang sebatang pohon kedondong pagar. Mikawali saat itu sedang mencari-cari gagasan untuk novel pertamanya. Lalu ia memarkirkan sepeda ontelnya di pagar dekat jalan setapak menuju rimbunan ilalang itu. Ia  masuk ke celah-celahnya yang mengagetkan kawanan pipit hingga berhamburan terbang. Mikawali menyibak bilah demi bilah ilalang dan tersenyum menikmatinya hingga  matanya tertuju pada sesosok tubuh terkulai di bangku yang ingin didudukinya.

Lakon gadis berbaju putih itu ia perhatikan. Paras ayu yang kemudian memberanikan diri menghampirinya. Di bangku itu dalam hujan deras kedua mereka tak juga beranjak. Ya, Munaira, nama gadis itu. Ia sedang terluka ditinggal kekasihnya. Dan hati Mikawali yang sunyi bertemu dengan jiwa terbuang Munaira. Maka tak ada kata-kata. Yang ada hanya senyum senja. Saat itulah janji diraup untuk bisa  bertemu lagi hingga beberapa senja setelah itu mereka di sana. Juga beberapa senja selanjutnya mereka dalam ilalang berkisah tentang diri dalam ikatan pertalian hati.

Hingga suatu senja Mikawali dan Munira sepakat bersama dalam kisah hati. Namun kebahagian itu hanya bisa berlangsung beberapa purnama.  Mikawali sebagai pecinta dan Munaira adalah sisa-sisa luka, tak lagi percaya pada kata hati. Munaira mulai mencipta jarak. Mikawali kembali pelan-pelan mendera sunyi. Ia mencari-cari bayang gadisnya saban senja di tempat mereka saban rindu bertemu.  Dan beberapa hari lalu ternyata mimpi buruk itu benar-benar datang. Mikawali segera menghambur ke rimbun ilalang, meraung di balik bilah-bilahnya yang menguning karena sudah berbulanan tak hujan. Pekikan hatinya menyentuh langit hitam karena gumpalan awan yang mulai ingin menumpahkan hujan besar. Jiwanya meronta sejadi-jadinya, ia kehilangan sebagian dirinya. Secarik kertas itu digenggam erat sekali, kertas bertuliskan musabab luruhnya Mikawali.

Putus. Tak perlu ada airmata, tak perlu menangis, tak perlu mengenang. Ini yang terbaik untukku dan kau.  Sejak itu Mikawali, hanya sibuk mencari-cari Munaira di senja, saat ia duduk di atap rumahnya. Pikirnya, mungkin wajah gadis itu ada di langit hitam lepas hujan, mungkin senyumnya ada di beberapa butir hujan yang turun liar, ia menatap pulau awan kelabu sembari menyenyuminya. Senja setelah hujan itu sangat indah, di timur terbentang bianglala, dan dalam senja indah itu Mikawali kehilangan separuh dirinya.

 

sumber:

http://www.serambinews.com/news/view/34154/di-langit-senja-berbianglala