SEMERBAK PANTUN DI MALAM SUNYI

oleh: Nazar Shah Alam

Ie krueng baru ile meusintop
Patah jeuneurob cabeung bak ara
Meunyoe Meulu lon kajicok le gob
Reumbang cit kutob rincong bak dada

KAWAN, ini pantun saban terdengar di malam  sunyi.  Jika sunyi saja. Jangan berharap akan mendengar kala malam bising dan kacau.  Pantun itu biasa dilantun dalam irama seudati. Mengalun lembut, mendayu, dan menyusup jauh ke kalbu. Dan biasanya, jika telah diulangnya pantun yang sama hingga tiga kali dengan irama yang sama juga, lelaki penembang itu akan meniupkan suling. Orang menyebutnya itu buluh perindu, tapi aku katakana bukan.

Sebab, seperti kita ketahui, buluh perindu itu jika ditiup akan menyeret orang yang dimaksud ke tempat peniupnya. Namun ini tak begitu. Pun berkali-kali ditiupnya hingga muntah-muntah, si perempuan yang dimaksud tetap juga tak bergeming, konon lagi merindui dan menjenguknya.

Jika kau lihat, Kawan, bagaimana keadaan tukang pantun itu, maka kau akan berpikir ia adalah seorang lelaki yang digilakan oleh kerinduan. Cinta tak sampai. Namun sebenarnya bukan begitu, ia tak lebih dari seorang pecinta biasa yang jika dibalut rindu, rindunya akan maha. Begitu saja. Ia normal. Bekerja juga, bergaul juga, pernah bersekolah juga, pun hanya tamat SD. Ia lelaki biasa, tapi itulah, jika malam-malam rindunya tiba saja ia akan berubah drastis.  Dan perlu juga kubagi tahu, namanya Asnawi Khairul Iman Bin Teungku Abdurrahman. Nama yang sungguh elok.

Asnawi lebih akrab disapa Cutlot-pakcik yang bungsu- karena rata-rata keponakannya memanggilnya begitu. Orang kampung ikut-ikutan memanggilnya begitu pula. Bayanya tak jauh beda dariku, hanya saja ia sedikit lebih tua. Dan ia sangat menyintai Meulu, gadis kampung yang terkenal cantiknya minta ampun. Kalau boleh aku katakan kepada Kawan sekalian, sungguh tak sedap dipandang jika nanti Meulu menjadi pasangan Cutlot. Bak langit dan bumi bedanya. Itu bukan saja penilaianku, tapi segenap warga kampung juga mengatakannya begitu. Bahkan, sungguh banyak gadis yang menyarankan Meulu agar ia tak menerima cinta Cutlot.

“Manalah mungkin kuterima, ia tak layak pun untukku.” Begitu tanggapan Meulu jika ada yang melarangnya. Namun, Cutlot tak putus asa mendengar penolakan itu, justru ia kian parah merindu. Aku, selaku orang yang selalu tidur bersama Cutlot di Kios Kasih Tak Sampai milik cutdanya, tentulah banyak tahu kisah rindunya itu. Segenap perasaan ditumpahkannya dalam bait-bait pantun yang dilantunkan saban rasa itu menjenguk.

Jika kawan melihat kondisinya kala sedang dibalut rindu, tentulah kawan akan begitu iba. Ia senantiasa melepas kaos putih polosnya hingga nampak berbilang tulang rusuknya, lalu ia membalut kain panjang yang biasanya digunakan sebagai selimut itu di kepalanya, nampaklah ia seperti mengenakan tengkuluk para pejuang Aceh zaman Teuku Umar. Dikenakannya celana selutut dari kain karung tepung terigu. Lalu ia akan melenggang-lenggang di tanah lapang depan kios itu. menari-nari sembari berpantun,

Moto pit moto jak malam
Asoe di dalam kaye lagak hue
Wab pijut tuboh meuhawoh badan
Hate di dalam meunanggong rindu

Lalu diulang-ulang pantun itu hingga tiga kali, diraihnya suling, ditiupnya mendayu-dayu. Sekampung tahu, tapi tak peduli, lantaran telah sangat sering terdengar pantun rindu itu.

Begitulah,seterusnya jika malam telah meleburkan sunyi ke dalamnya, pantun itu selalu terdengar. Sayang kini suara itu tak terdengar lagi. Tak ada lagi pantun yang membelah temaram kampung kami itu, pun malam membawa sunyi yang sangat dalam tibanya. Meulu telah menikah sepurnama lalu. Cutlot tak pernah lagi tidur bersamaku di Kios Kasih Tak Sampai. Kampung kami kini setiap malam sepi sendiri.

Sumber:

http://serambinews.com/news/view/37214/semerbak-pantun-di-malam-sunyi

15 Agustus 2010