RIDLALIA, AKU, DAN KAMPUNGKU

Oleh

Nazar Shah Alam

(sumber: Serambi Indonesia 13 Maret 2011)

Mendengar lagu asal kampung sembari mengenang kampung halaman adalah sebuah keindahan, seperti melihat hujan diselingi nyanyian lawas dan sendu. Aku merindu. Ini adalah tahun ketiga tak kujejakkan kaki di tanah lahir. Maka boleh kukatakan rindu itu menggumpal dan meninggi membentuk bukit-bukit kecil yang dirimbuni pelbagai macam tumbuhan seperti pohon sangka, batang-batang duga, dan segenap duri syak. Ah, Aceh. Baru aku tahu tentang indahnya dari seorang gadis muda Brunai Darussalam yang lama menuntut ilmu di sana. Seharusnya aku tak boleh menyebut “di sana”, sebab itu akan menjadi asing sekali dan jauh. Bukankah Aceh adalah tempat lebih setengah usia kulewatkan? Baiklah, akan kukatakan bahwa Aceh begitu dekat denganku, seperti aku dan darahku. Sebab dulu Ayah mengajarkanku bahwa Aceh adalah darah bagi rakyatnya.

Ini adalah senja terakhirku di Brunai Darussalam. Ridlalia Asra binti Dato Seri Kaltsum belum juga datang memenuhi janjinya. Ia ingin aku membawakan sepotong kain songket buatan Brunai untuk makciknya, yang sebenarnya ibu kos dia saat  masih di Aceh. Dia hendak  menitipkannya padaku. “Aku akan ke Aceh beberapa bulan lagi, Pakcik,” katanya. Aku tersenyum saja. Ia berkata begitu kemarin, saat aku bercerita padanya tentang kepulanganku. “Kau diberikan apa dulu waktu pulang dari Aceh?” tanyaku. “Baju kurung. Ini yang kupakai,” jawabnya puas sekali. Memang ia begitu padan mengenakan baju kurung itu. Gadis hitam manis yang dibalut pakaian serba biru tua di depanku adalah lanskap perempuan yang  menghargai budaya. “Aceh budayanya kuat sekali, Pakcik,” katanya. Aku tersenyum, tapi jujur saja aku sangsi pada kata-katanya itu.

Jelas sekali aku ingin membantah apa yang ia pikirkan tentang budaya di tanah lahirku. Iya, aku setuju jika dia berpikir bahwa Aceh budayanya beragam, tapi ketika sering kali ia berkata bahwa orang Aceh menghargai budaya-budayanya, aku keberatan. Tapi, sudahlah, aku tak perlu membantahnya hari itu. Ia sedang sangat mengenang Aceh, sedang aku sedang berpikir lain tentang apa yang ia pikirkan itu.

Lagu-lagu Melayu mengalun dari radio di sudut kamarku. Aku telah siap untuk menuju bandara. Semua barang telah kumasukkan ke dalam tas. Ridlalia Asra binti Dato Seri Kaltsum belum juga membalas pesanku. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Aku membukanya dan di depanku tegak seorang gadis berkerudung cokelat tua dan berpakaian dengan warna yang sama. Disodorkan kotak kecil itu. Tak lagi perlu kutebak. Isinya pasti kain songket Brunai.

“Katamu, kau akan mengajakku makan-makan sebelum aku pulang,” godaku. “Pasti, Pakcik. Mari kita ke rumah makan di seberang jalan itu saja. Di sana enak-enak,” sahutnya sembari tersenyum. Aku mengikuti jalannya. Ada hal yang menarik dari gadis itu: Ia masih berbicara ngedok Brunai, walaupun ujung tiap kata-katanya telah berubah menjadi bahasa Indonesia. Ia sangat menghargai bahasanya. Tak seperti orang kampungku, baru merantau ke Banda saja sudah tak bisa berbicara bahasa asli kampungnya. Sudah berubah logatnya. Ridlalia mengenakan pakaian ala gadis Brunai, katanya di Aceh dulu ia juga berpakaian yang sama. Ia sangat menghargai budaya berpakaian bangsanya, tak seperti orang kampungku. Baru saja merantau ke Banda sudah berpakaian macam orang Barat.

Saat makan ia lebih banyak diam daripada bercakap-cakap. Aku mencoba menghargainya. Setelah makan baru kami berbicara banyak tentang Aceh dan Brunai, tentang dia dan aku, tentang budayanya dan budayaku. Kemudian ia memuji-muji Aceh. “Di Aceh budayanya hidup dalam darah semua orang, Pakcik, kan?” katanya. Aku ingin muntah.

Baiklah, aku jujur. Sama sekali aku tak peduli pada hidup dan matinya kampungku. Musikku sudah berganti. Aku tak menabuh rapa’i lagi, sudah ada drum, tak meniup seurunee kale lagi, sudah ada saxophone, sudah tak senang lagi kunonton budaya seudati, sudah ada konser band-band papan atas, sudah hampir mati balee seumeubeut, sudah ada TV, sudah hampir tak suka lagi meudalae, sudah suka ngejam, sudah tak ada lagi dara-dara dan muda-muda yang memeluk kitab atau berpeci saban sore menuju pesantren, sudah ada motor untuk putar-putar di sepanjang jalan kota. Apa lagi? Aku ingin memuntahkan itu semua padanya. Tapi ia sedang memuntahkan kelebihan-kelebihan Aceh padaku dari bibir-bibir kecilnya itu. Aku tak kuasa memotong kata-katanya yang lembut. Ah, mengapa malam begitu lama datang? Aku ingin meninggalkan Brunai Darussalam dan gadis itu sekarang juga.

* Penulis adalah mahasiswa Gemasastrin FKIP Unsyiah