DI SEMBAHYANGKU MALAM INI

Oleh

Nazar Shah Alam

Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?

Petang abu-abu. Angin liar merambah segenap jurusan. Aku berdiri di pintu kamar Humaira, adikku. Mendengarnya membaca ayat-ayat Al Qur’an memunculkan sebuah gejolak yang dahsyat padaku. Suara merdu gadis kecil itu mengalun menyusup papan pintu. Selalu saja Humaira menunggu maghrib dengan membaca Al Quran. Aku bergidik. Ah, Nikmat Tuhan yang manakah yang sedang aku dustakan?

Dan bagiku hidup itu adalah sebuah pilihan. Aku telah memilih jalan itu, sayang jika mesti kutinggalkan. Kukira musababnya adalah Kinzir. Ia yang mengajakku masuk ke organisasi itu. Bukan juga sepenuhnya Kinzir yang salah, kukira, aku juga mesti bertanggung jawab atas pilihan ini. Dasarnya aku sangsi dengan ini semua, tapi bukankah masuk logika beberapa waham yang kutemui di sana? Adakah aku sedang mendustakan nikmat Tuhan dengan memercayainya?

Humaira mencukupi bacaannya. Azan tiba. Aku tak merasa berkewajiban sembahyang seperti emak dan adik-adikku. Tentu saja menjadi pertanyaan pada mereka. Ini tak biasa. Mereka mengenal aku yang, setidaknya, tak pernah meninggalkan ibadah sembahyang. Ah, mereka tak tahu. Kami hanya akan sembahyang sekali dalam sehari semalam. Dan aku hanya akan sembahyang nanti, saat mereka sudah atau hendak tidur. Adakah aku sedang mendustakan sesuatu nikmat yang diberikan Tuhan dengan berlaku demikian?

Semua telah berubah. Aku tengah masuk ke satu jalan. Jalan pikirku sendiri, sesuai logika, seperti yang telah kupelajari bersama sahabatku, Kizir. Emak muntab. Aku masuk kamar dan lelap. Baru aku bangun saat mereka semua sedang menikmati tidur. Dan, aku kembali bergidik saat suara Humaira, entah darimana, menyusup dari pintu kamarku, masuk ke labirin telingaku, mendengung di sana. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?

Aku masih di atas sajadah. Tak ada lampu. Yang hidup hanya sebatang lilin dan temaram kamar. Di atas meja, tak jauh dari depanku terpampang foto mendiang Ayah. Suaranya menggema pula di telingaku. Jangan melanggar dua hal, aturan Tuhan dan aturan pemerintah. Adakah yang sedang kulanggar?

Dan kubuka sebuah buku kuning pemberian Kinzir. Takzim sekali. Ini adalah kitab kami. Aku membacanya lembar per lembar. Lalu dalam temaram itu aku terbawa pada sebuah pemikiran. Apakah benar, hadis itu tak perlu dipercayai sebab ditulis bukan saat Muhammad masih hidup? Ah, bukankah semua hadis yang diajarkan Nek Abu, guru mengajiku itu ada benarnya menurut ilmu dan logika? Mengapa aku mesti ingkar?

Tentang nabi, pada yang baru jujur saja aku sangsi. Tapi, ah, suara Humaira menyusup lagi dari tulang-tulang kayu pintu. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?

Aku bertanya pada diriku sendiri tentang semua keadaan ini. Ajaran baru yang kuterima di sekolah itu, Kinzir, Kitab ini, Nabi itu, Ibadah ini, Sumpah itu, ah, bukankah Nek Abu telah memberitahukan padaku tentang nabi terakhir? Tentang kitab, bukankah hanya Al Qur’an dan hadis saja yang bisa dijadikan pegangan dalam kehidupan?

Pada sembahyangku malam ini. Disaksikan lilin dan foto Ayahku. Aku ingin kembali pada ajaran yang dulu. Ajaran agama yang diajarkan Nek Abu. Tapi pada siapa aku mesti mulai memberitahukan pilihanku yang salah ini? Aku tak mau siapa pun tahu bahwa telah kuikuti aliran itu. Mereka akan bertanya banyak sekali.

Kinzir menelponku beberapa kali, tak kuangkat. Kemudian ia mengirimiku pesan. Di sana ia memintaku agar tak terpengaruh dengan pengakuan Halimah tentang ajaran kami pada media. Dan agar aku tak terpengaruh dengan pemberitaan tentang aliran pemahaman kami yang dicap sesat. Aku terhenyak di tempat tidurku. Jelaslah bagiku, ini semua adalah sebuah pendustaan itu. Tiba-tiba, saat aku hendak lelap dan setengah mataku telah terbenam ke sebuah ruang yang gelap, suara Humaira, Ayah, dan Nek Abu terdengar lantang masuk dan mendengung di telingaku.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?

Aku ketakutan!