ILMU PERASAAN

karya Nazar Shah Alam

sumber: Harian Aceh, 18 September 2011

Pengko pulang ke kampungnya demi suatu kepentingan. Orang tuanya mendadak menyuruhnya pulang untuk bertanya kapan ia akan benar-benar mengajak emaknya melamar Maryam. Pengko dilanda dilema. Ia sekarang juga sedang merajut kasih dengan Cornelia, perempuan asal Australia. Pengko dan Cornelia berkenalan saat mereka sama-sama mengikuti pertemuan penulis di Bali. Cornelia bahkan mengatakan pada Pengko jika nanti mereka bisa menikah ia bersedia menjadi mualaf.

Maka, kemudian Pengko berkali-kali melaksanakan shalat Istiqarah, meminta petunjuk dari Allah. Ia mulai terlihat suka merenung. Dan suatu pagi, Pengko duduk di warung kopi Di Langit Senja Berbianglala. Di sana terlihat Wak Lah duduk bersama Nasir pada satu meja yang sama. Bujang lapuk jika sudah duduk sebangku rupanya ceritanya macam-macam saja. Wak Lah membuka kisah tentang perjuangannya mendapatkan Aminah. Lama kelamaan berkembang jauh hingga perjalanannya ke Italia.

Rupanya, antara Wak Lah dan Pawang Lah sedang ada perselisihan. Mereka berdebat suatu pagi tentang asal usul nama Australia. Menurut Wak Lah, Australia berasal dari nama Austria dan Italia, dua negara dari Benua Eropa yang menurutnya pernah menjajah benua itu. Pawang Lah keberatan, ia berpendapat bahwa Australia berdiri sendiri dan hanya dijajah oleh Inggris. Tak ada sangkut pautnya antara Austria dan Italia dengan Australia. Sesuai dengan ilmu pengetahuan, pendapat Pawang Lah memang benar, namun Wak Lah bersikeras bahwa pendapatnyalah yang benar. Wak Lah mengandalkan perasaannya karena memang jika digabungkan nama kedua negara itu akan menghasilkan nama Australia.

Pagi itu Pawang Lah masuk dengan muka semrawut. Ia baru saja bangun tidur. Lelaki yang memakai peci hitam bertuliskan Rencong Aceh itu mengambil tempat duduk terpisah dari Wak Lah, juga tak sebangku dengan Pengko yang dilema. Australia itu negara yang hebat, Nasir, kata Waklah. Demi mendengar itu Pawang Lah menjawab, itu perasaanmu saja, padahal tidak seperti itu. Sontak terdengar tawa di warkop Di Langit Senja Berbianglala.

Wak Lah diam dan meneruskan ucapannya, kopi di sana adalah yang terbaik. Pawang Lah menyahut lagi, itu perasaanmu saja, padahal tidak seperti itu. Kembali terdengar riuh tawa. Tak mau kalah Wak Lah menambah, kalau bukan negara itu sangat indah tak mungkin si Pengko memilih perempuan dari negara itu, benar bukan, Pengko? Si tampan itu mengangguk. Pawang Lah menyahut, itu perasaanmu saja, padahal tidak seperti itu. Pengko ikut tertawa.

Jika dicerna lebih dalam, ada benarnya juga kata-kata Pawang Lah. Selama ini kita suka sekali menggunakan ilmu perasaan, atau tepatnya ilmu merasa-rasa. Kita merasa sudah tepat memilih jalan hidup, padahal tidak tepat. Merasa sudah bersih hati setelah bulan Ramadhan pulang, padahal masih busuk. Merasa sudah sangat pandai, padahal masih bodoh. Pemain Timnas PSSI merasa sudah bagus bermain sehingga yang salah atas kekalahan mereka adalah pelatih, padahal performa mereka sangat buruk. Gubernur merasa ia berhasil menjalankan pemerintahan, padahal banyak gagalnya.

Kemudian Pengko bangun, membayar uang kopinya dan mulai memantapkan pilihannya. Ia berkata pada Pawang Lah, Cornelia adalah yang tepat untukku. Karena merasa Pengko berkhianat pada persahabatannya Wak Lah serta merta menyahut, itu perasaanmu saja, padahal tidak seperti itu. Sontak penuh warkop Di Langit Senja Berbianglala dengan tawa.*