HATI YANG BUNTUNG IV

Karya Nazar Shah Alam

sumber: cerfet Harian Pikiran Merdeka edisiĀ  29 April 2012

Sudahlah. Biarkan maut menjadi pemisah dan kesah menjadi penawar luka. Aku berhenti mengenangmu di riba, berhenti menunggumu di gelombang, Marlina. Adalah yang menutup mata, lepaskanlah pejamnya. Aku sedang di depanmu. Sampai sekarang aku sama sekali tak bisa melihat diriku sendiri di bolanya. Maafkan atas masai pikiranku. Kau tahu betul bagaimana diriku. Seperti perang puak, seperti itu perang di hati antara kau dan Marlina. Maka bukalah mata dalam jangka semampu kutatap, aku akan mencari diriku di sana. Aku juga akan mencari dirimu. Di sana ada badai, akan kucoba masuk dan menembusnya.

 

Aku melupakan banyak sekali mata, melupakan bahwa dari sana aku juga bisa berkaca. Kalau aku mesti sendiri lalu berubah Mikawali, aku ingin kau menjadi Munaira. Bukan, bukan Marlina lagi. Tapi kau, yang memejamkan mata. Kali ini aku tak ingin malas mencari diri dan mencari sesiapa yang akan menggantikan orang pergi. Jika kudapatkan di matamu adalah kamu sendiri, maka aku akan berhenti di bola matamu dan bermukim di sana. Ada semacam harap memunah rindu dari mata air yang mengenang di rubi itu. Kau tentu paham pada harapku. Kau tentu paham pada semua yang telah berlaku.

 

Pernah siapa saja mendapati suatu musim celaka di hidupnya. Namun, ketika yang mendapatkannya, aku kehilangan banyak sekali dari diriku sendiri. Kabut di hidup, kabut di hati, kabut tercipta oleh sesuatu yang entah pada diri. Matahari kusut betul pada kalanya. Aku tak pernah meratap, kecuali merindukan diriku yang lama pada banyak waktu. Adalah masa lalu sama seperti kematian. Semestinya aku tak berhak merindu apa-apa. Aku mesti melihat ke depan. Ke matamu, Yang Terpejam. Yang mati sudahpun tak bisa dihidupkan, yang pergi telah jua tak bisa kukembalikan. Aku ingin masuk ke matamu saja. Di sana aku memasung diri lalu terlelap hingga mati. Biarkan aku memejam mataku di matamu. Tentu, jika kau bersedia seperti itu.

 

Tuhan menggores banyak sekali garis dalam hidup, seperti peta. Aku sesatĀ  di garisku sendiri. Dan lupa sama sekali pada keindahan. Aku belum gila dengan kepergian banyak orang, maksudku aku belum layak disamakan dengan Qais demi Laila laiknya di kisah Laila Majnun. Aku masih sangat ingin mengganti Marlina dengan kuncup lain. Berharap dari kuncup itu mekar dan indah. Indah hingga angka di almanak tak sanggup lagi terhitungkan.

 

Bila sudah di matamu, izinkan aku berkemah atau kemudian dirikan rumah. Di rumah itu aku akan hidup dengan tenang. Di matamu, mata berpadang rumputan hijau, padang penuh kupu dan capung liar, kupu ria dalam rimbun bunga edelweis. Di matamu juga tumbuh azelia, mekar dan indah. Tepat di sana aku berumah. Aku sedang enggan pada hidup ini. Sangat enggan. Sebab di sini aku akan terperangkap pada kalut perebutan bintang di pucuk Masjid Raya atau bising teriakan pilu perempuan kehilangan. Aku benci kebisingan. Maka perdengarkan aku instrumentalia sendu, suara biola merdu. Bukalah matamu yang terpejam. Aku ingin segera meloncat ke sana. Akan kubangun rumah. Akan kusirami semua bunga mekar di sana. Akan kujaga taman di matamu ini. Setelah aku menyusup dan hidup di matamu, terpejamlah lagi. Nanti aku akan menjemputmu pula ke sana.