Hati Yang Buntung VI

karya Nazar Shah Alam

sumber: Cerfet Harian Pikiran Merdeka, edisi 13 Mei 2012

Oh, maafkan aku. Sama sekali aku tak bermaksud menyinggungmu. Aku berpikir demikian sebelum berani benar menyusup ke dalam matamu. Barangkali ketika itu pikiranku sedang sangat pekat. Temui aku yang sekarang, dapatkan aku yang sekarang, lupakan yang itu. Maksudku, ah, sulit sekali segala kata kutarik kembali ke muasal. Sebab sungguh celaka, kata sebelum jadi kata adalah milik hati dan pita suara, namun bila sudah berpinak ia malah jadi milik telinga. Maafkan aku. Kau paham masai pikirku.

Segala sesuatu memiliki keindahan, tapi tidak semua orang bisa melihatnya. Aku merasakan kebenaran pepatah Cina itu pada sekian waktu. Kita kerap egois memilih dan memilah batang-batang bagus untuk ditanami dan membuang kecambah busuk begitu saja. Pernah kau melihat padi, wahai? Seorang petani kerap membuang kecambah padi pada masa selesai direndam. Padi yang mengapung semua dibuang serampangan saja.

Namun coba lihat, lihat pada berpekan setelahnya. Matamu akan mendapatkan beberapa padi muda bermunculan di antara celah batu. Maksudku, tidak semua yang mengapung di antara padi direndam itu tak berisi atau berguna. Kita kerap salah menilainya. Lalu, bukankah dengan mengatakanmu seumpama pelengkap bila dibutuhkan belaka aku sama saja dengan sudah membuang benih yang mungkin tumbuh?

Aku terlalu banyak memikirkan Marlina, tapi itu hanya ketika aku tak disesatkan mata lainnya. Sekarang kau menyusupkan sebilah bulan ke mataku, aku lena. Tentu saja aku tidak perlu mengatakan bahwa sinar bulan dari dua rubi hijaumu itu telah mengambil lebih dari sebagian tenagaku. Beberapa orang di sekelilingku malah tertawa. Kata mereka aku cepat sekali lupa pada warna mata. Tidak sepenuhnya seperti itu, kukira. Aku hanya tak ingin larut.

Dalam kesadaran aku berpikir bahwa ilalang hitam lentik di kelopak matamu itu sungguh memesona. Namun bila saja kesadaran itu tepat berada pada tempatnya, aku malah menjadi seorang pelupa. Bagaimana mungkin bisa kukata kalau denting piring kaca bertemu sudu dan dipadu ketuk meja kayu serupa senandungmu, sedang matamu membuat aku betul-betul amnesia.

Segeralah pejamkan matamu, wahai. Aku tak hendak jadi Mikawali untuk Munaira pada kali ini. Aku berteduh di rumahku, di bola matamu. Sekali lagi kukata bahwa di sana kutemukan alunan musik sendu serupa balada sore hari. Di matamu kutemukan matahari turun dalam teduh, setengah sinarnya menusuk awan dan bias ke rumahku. Aku akan menikmati warna senja: kuning keemasan, beberapa garis memerah, beberapa tumpuk awan disalup hitam dan di sisinya bergaris putih kapas. Dan melihat angin mengayunkan daun-daun mahoni yang di bawahnya sebuah bangku kayu panjang berwarna kecoklatan. Aku melihat hampar padang hijau tertimpa tempias matahari. Semua ada di matamu, sekarang hanya ada di matamu.

Pejamkanlah binar itu, wahai. Tak perlu lagi kita melihat senja dan mencubit beberapa cerita di sana untuk kita bawa pulang. Di matamu selalu saja ada cerita. Maka pejamkan dan segera kau susul aku ke sana. Aku ingin berdua denganmu. Aku ingin melupakan Marlina. Bila arloji di matamu menunjuk malam, maka kita akan keluar ke taman untuk melihat seberapa ukuran potongan bulan. Jangan bertanya mengapa berkali-kali kita tak dapat menemukannya. Kita sedang duduk di halaman bulan pada saat menatap ke langit sana.