Baliho

Nazar Shah Alam

Wak Lah mendengar kabar Pengko telah pulang, maka ia segera menuju Kota Mandaceh. Pagi-pagi sekali ia sudah tiba di kota tersebut. Ia langsung menuju sebuah warung kopi di Simpang Romantis. Setelah minum kopi, ia segera bangun. Dengan langkah pelan ia menyusuri jalan Simpang Romantis. Betapa terbelalak matanya ketika mendapatkan gambar besar yang di dalamnya terpampang sang rupawan, Pengko duduk sembari memegang pundaknya. Itu gambar yang sudah lama sekali. Gambar yang diambil Pengko ketika berkunjung bersama kawan-kawannya ke Kuta Ganteng bertahun-tahun lalu.

Terenyuh hati lelaki kurus melihat gambar itu. Betapa sang rupawan begitu menghargai persahabatan. Dilihat Pawang Lah berdiri dengan baju jubahnya dan kain sorban merah melilit di lehernya. Wak Lah ingat, kala foto itu diambil, Pawang Lah baru saja pulang dari menikahkan putrinya (seorang gadis yang duduk manis di samping Pengko rupawan di gambar itu) di kecamatan. Maka, perlu diketahui, itu adalah baju pinjaman dan jangan tertipu dengan penampilan Pawang Lah di situ.

Wak Lah masih ternganga di sana. Sebentar kemudian ia terusik oleh seorang lelaki yang mirip dengan seorang yang di dalam gambar itu. Setelah ditelisik, terjawablah nama lelaki muda seperti orang Jepang itu. Mandana, sungguh sebuah nama yang tak lazim bagi seorang lelaki muda. Mungkin orang tuanya sangat menyukai kota Mandaceh, maka namanya tak jauh dari kata itu.

Mandana duduk tepat di depan baliho itu. Tak lepas matanya memandang gambar dirinya. Konon katanya sudah dua hari dua malam ia tak tidur sebab memandang gambar itu saja. Walaupun angin dan topan menerjang, ia tetap duduk memandang gambarnya. Pernah, katanya, suatu malam badai, dia naik ke atas baliho berlampu itu demi menjaga agar tidak rubuh. Sungguh konyol.

Wak Lah melirik ke baliho sampingnya. Sebuah gambar memanjang bertuliskan Presiden Pukoma dengan tiga orang lelaki berbaju sama tersenyum di sana. Wak Lah melihat lagi baliho Pengko. Ah, bahkan Shakir pun lebih tampan dari ketiga lelaki itu, konon lagi dengan Pengko, ketiga orang besar Pukoma itu memang tidak ada apa-apanya. Seperti membandingkan hujan dan api. Berani pula mereka memasang gambar mereka di sana. Narsis sekali tiga anak muda itu. Tentunya juga tidak malu. Apa mereka tidak sadar bahwa di samping mereka sebuah gambar orang rupawan sedang berdiri dengan tenang dan teduh? Pengko memasang baliho dengan uang pribadi demi persahabatan, sedang presiden Pukoma mungkin saja mengambil uang mahasiswa. Mungkin saja.

Di foto ini Pengko seolah sengaja memilih bergaya dan berpakaian buruk agar bisa seimbang terlihat dengan orang-orang bersamanya. Namun, dalam keadaan itu pun ia terlihat jauh sekali berbeda. wajahnya berseri, senyumnya lestari, semua yang dikenakannya serasi. Kecuali itu, di sampingnya duduk pula Ramlah, anak Pawang Lah. Sejatinya mereka terlihat serasi betul, namun Ramlah sudah terlanjur bersuami. Dari matanya terlihat menyimpan gelora hebat rasa kagum untuk lelaki di sampingnya. Ia pasti akan rela meninggalkan suaminya bila saja Pengko bersedia menjadi kekasihnya. Jelas terlihat dari pandangannya.

Anjali juga ada di sana. Tapi mukanya masam dan buruk. Rambutnya yang keriting menambah sangar dan minat berpaling Wak Lah semakin besar. Entah apa muka dibikin sangar begitu. Wajar saja sudah tak sanggup dipandang, batin Wak Lah. Konon Anjali sudah dibawa ke rumah sakit sebab pingsan melihat gambarnya di baliho pada hari pemasangan. Shakir terlihat menjorokkan mukanya ke bahu Wak Lah. Kalau dipikirkan secara wajar, rambut panjang sebahu yang dikenakan Shakir itu sama sekali tidak pantas berada di kepalanya. Kalau saja yang berambut seperti itu adalah Pengko, tentu saja layak. Sebab untuk orang tampan, rasa-rasanya apapun yang dikenakan akan sangat serasi.Di samping Wak Lah ada Halimah dengan senyum bulan sabit dan mata lautnya. Cantik betul. Bila dihapus gambar lain, dan Pengko diletakkan dekat Halimah, bak pinang belah dualah mereka.

Namun rupanya Shakir telat tahu tentang itu. Malamnya, Wak Lah belum pulang, Shakir datang. Dari pintu mobil pemadam kebakaran barunya ia meloncat bahkan ketika mobil itu belum murni berhenti. Di tangannya sudah ada selimut besar. Ia akan tidur di sana juga seperti Mandana? Tidak. Ia berlari cepat dalam hujan dan segera memanjat tiang baliho itu. Ia merentangkan sendiri selimut itu hingga tertutup sebagian. Agar gambarnya tidak kedinginan, kata Shakir.

Shakir turun dari tiang itu. Nampak haru di wajahnya begitu luar biasa. Shakir tersedu dan terus menatap baliho yang memuat gambarnya itu. Sekian lama di sana, ia semakin kuat menangisnya. Sampai pada puncaknya, dia terkapar tak sadarkan diri. Dari mulutnya keluar kata-kata tak jelas. Shakir kerasukan.