Mendung dan Guruh Sebelum Hujan Jatuh

mainhujanNazar Shah Alam

Mendung dan guruh sebelum hujan jatuh. Di kampungku. Bila ia datang pada jelang petang begini, kamu akan melihat ibu-ibu berlari-lari kecil menuju tali jemurannya atau buru-buru mengangkat padi, pala, pinang, yang digelar di atas tikar lebar. Paling banyak kau dengar ibu-ibu itu memanggil dan menyerapahi anaknya. Bila kemudian hujan mulai menitik, suara ibu-ibu itu meninggi, memarahi anaknya dan membentak agar sedikit buru.

Mendung dan guruh disertai rintik jatuh. Di kampungku. Bentakan ibu-ibu untuk anaknya tidak pernah menunggu saat tepat dan tempat layak. Mereka mencintai dengan cara beda. Bila kelak hujan lebih kuat, kamu akan dilarang keluar. Kalau pun keluar diam-diam, ibu-ibu itu lebih memilih mendiamkan. Sebab hujan bagi anak-anak kampung adalah tempat mendapatkan kekuatan. Kelak kalian ketahui bahwa dalam hal antibodi, anak kampung yang pernah mandi bersama kerbau lebih kuat daripada anak manja yang tidak pernah dicuci bajunya di sungai.

Mendung dan guruh dan hujan pelan jatuh. Di kampungku. Beberapa kanak-kanak sudah lebih dulu telanjang. Menghambur ke tanah lapang di belakang rumah orang. Lapangan bola sempit yang di pinggirnya tumbuh batang-batang kelapa dan konon menurut amar orang tua-tua ini tanah berpenghuni. Hampir tak ada yang peduli pada jin atau penghuni lain. Barangkali memang ada, tapi jin jadi penonton terbaik dan sesekali saja menyentil meninggalkan bercak merah atau biru semacam memar di beberapa bagian tubuh. Jarang sepulang main mereka sakit, sebab malamnya bila tak mengaji, bersiaplah diantar dengan paksa dan dipermalukan oleh orang tua di hadapan semua orang.

Mendung dan guruh dan hujan urung jatuh. Di kampungku. Anak-anak terus bermain bola, kotor selaik kerbau bangun di kubang. Bila di meunasah suara mengaji terdengar, mereka berlari ke sungai, melompat dengan girang, bergaya-gaya. Di sungai, sembari mandi mereka bermain lagi, menyembunyikan batu tertentu. Hanya beberapa kali, lalu pulang. Kadang kau akan mendengar ibu-ibu pemarah menjemput anaknya dengan serapah. Mengejar anaknya dan memukul dengan pelepah pisang tua. Anak itu, hanya berhenti (seperti pasrah) ketika dipukuli, lalu lari lagi. Gegas masuk rumah melalui pintu dapur, mengenakan pakaian serampangan, lari lagi, mengaji. Berada di rumah lama-lama akan membuat telinga merah sebab serapah ibu akan dilanjutkan sampai anaknya enyah.

Mendung dan guruh bila pun hujan lebat jatuh tanpa sepentil pun ruang susup. Di kampungku. Anak-anak tetap tidak boleh bolos mengaji. Jika musim hujan sedang parah, anak-anak dibekali makanan pada sorenya dan dianjurkan tidur di meunasah. Bersebab itu kemudian mereka bisa cepat menguasai kitab. Dan dibiarkan tidur di meunasah dari kecil telah membuat anak-anak kampung tidak manja, tidak bergantung sepenuhnya pada orang tua.

Mendung dan guruh sebelum hujan jatuh. Di kampung orang. Selain rindu dan sunyi, aku tidak menemukan kesan sama sekali.

Rumah Jeuneurob

18 Mei 2013

17:16