PIGURA

ZaOleh, Nazar Shah Alam

 

Turun lagi hujan pada senja kedua puluh

Oktober menggigil serupa aku

Bersama matamu yang terus menyeringai

Mataku sering dibawa mencari-cari mengapa keadaan kerap

Menyatukan sepasang pengelana pada sebuah jurang

Antara ketabahan dan kemurkaan

 

Matamu telah menjadi pemantik matahari

Malam ia menjadi api. Sebagai kalut

Yang tak kunjung bisa kupelajari

 

Aku dihinggapi benci pada hujan

Alir tempias di jendela kaca

Yang pernah kita nikmati selalu menyembur bayangmu

Ketika coba-coba kau sentuh tempias itu

Dengan kelingking kecil yang selalu kukecup

 

Nyatanya aku harus bangun sebelum hujan semakin lebat

memeriksa apakah aku benar-benar sudah terjaga

Kupandangi mata yang terus menyeringai itu

Detak jam, rintih hujan, lampu lesu, serak buku

Aku sudah lupa batas penanda antara mati dan hidup

 

Rumah KJ, 20 Oktober 2013