Pencabulan, Kondom, dan Beberapa Kawan Saya

nsaOleh Nazar Shah Alam

Kita temukan dua berita buruk pekan ini dan saya enggan berbicara serius tentangnya.

Sejak Issabell, laptop saya diamankan oleh seseorang yang dilahirkan oleh ibunya sebagai tukang aniaya, saya memutuskan untuk banyak membaca. Jika pun menulis, selera dan semangat saya tak sesuka biasa. Saya (mungkin juga saudara sekalian) selalu enggan menulis (baca: mengetik) suatu tulisan jika filenya kemudian harus menginap di laptop orang lain setelah rampung atau sebelum pengeditan karena laptop orang harus dikembalikan.

Akhirnya, waktu membaca saya bertambah banyak. Namun, nyatanya baru setelah membaca karya Putra Hidayatullah, saya sadar bahwa ada dua berita menghebohkan yang sama-sama berkabar tentang selangkangan. Perihal penyair cabul dan tentang Pekan Kondom Nasional.

Saya mulai menekan tombol ON pada keyboard khayalan. Pertama, bagaimana jika yang terlibat ksus pencabulan itu adalah teman-teman saya sendiri, para penulis muda yang selama ini di warung-warung kopi kerap bercanda tentang paha, janda, dara, dan dada. Tentu saja kabar pencabulan oleh mereka tidak seheboh apa yang dilakukan penyair ternama itu. Tapi bukan tentang hebohnya, melainkan bagaimana jika pelakunya adalah mereka.

Dalam khayalan saya, Ibnoe Hadjare diberitakan telah mencabuli seorang caleg perempuan. Betapa bangganya saya membaca nama dia menjadi headline media massa ternama (saya berdoa semoga memang benar terjadi agar namanya melejit. Amin). Dia melakukan itu di rumah caleg yang kebetulan sedang sepi dan sang caleg itu kebetulan pula sudah lama tak bersuami. Sedangkan ketika saya khayalkan Wak Lah Muntazar Teuku, ah, pemuda ini sebenarnya tidak layak saya bayangkan sebagai pelaku pencabulan, tapi dia lebih layak terlibat kasus dicabuli oleh tante-tante.

Munawir Shakir? Dia juga hanya layak dicabuli, bukan mencabuli. Coba bayangkan dia meronta ketika tangannya dipegangi oleh tujuh perempuan berusia kepala empat, rautnya ketakutan dan ia mencoba berteriak. Tapi mulutnya dibekap dan hampir tak terbekap. Akhirnya dia pasrah. Mendesah.

Saya alihkan bayangan ke Putra Hidayatullah. Dicabulinya seorang perempuan nyinyir yang bekerja di kampusnya. Barangkali sebab geram terlalu sering dibentak. Putra kalap, dia menyeret perempuan itu hingga ke satu tempat paling sunyi. Dan dengan brutal segalanya terjadi. Hamdani Chamsyah, dia tipikal pencabul berdarah dingin. Diam-diam, sunyi dan sepi, tahu-tahu sudah selesai mencabuli. Putra Al Khaidir, mungkin dia hanya menikmati pencabulan tanpa beban perasaan dan mungkin tanpa sadar bahwa dia sedang melakukan proses pencabulan. Sedangkan jika saya yang kemudian terkena kasus birahi, maka lebih tepat kasusnya bertajuk “saling mencabuli”.

Lalu, setali tiga kutang, berita penyair cabul dimeriahkan pula oleh kabar paling “membahagiakan” bagi para pelaku cabul yaitu akan ada kondom gratis dibagikan. Di satu sisi para pemuda senang–ayolah, jujur saja–apalagi yang punya pacar yang suka bergelap-gelapan yang suka menikmati hubungan tangan dan badan. Namun percayalah, ini berita terburuk bagi manusia yang punya pikiran. Coba utamakan agama dan otak bersih dalam menyikapi program pemerintah kali ini. Bukankah ini penghalalan atas keharaman yang sudah digariskan Tuhan? Betapa durhakanya kita jika ini resmi dilaksanakan. Pemerintah kita sepertinya sedang bermain-main dengan sex. Dengan alasan mengurangi penyakit kelamin, mereka memberikan ruang gerak yang aman bagi mereka yang selama ini takut-takut melakukan hubungan badan. Sungguh mereka sedang mencoba menyamakan manusia dengan binatang.

Pikiran saya berputar cepat antara setuju dan tidak. Setuju sebab jika-jika suatu waktu saya dihinggapi keinginan bercabul ria, sudah tersedia kondom gratis tanpa harus malu-malu membelinya. Dan sungguh, saya menolak program ini. Bukan hanya sebab berpikir logis dan agamis, tapi juga didasarkan pada rasa kasihan tak terperi pada teman-teman saya yang tidak memiliki kekasih atau tempat menunaikan birahi. Bayangkan, betapa tersiksanya mereka. Kondom sudah di tangan, namun tidak ada pasangan. Apakah dia harus masuk kamar mandi, lalu onani? Onani yang aman dengan cara memakai kondom dengan baik dan benar. Bayangkan![]

Rumah KJ, 3 November 2013