Umi dan Siluman di Kepalaku

UmiSebelumnya, aku mohon jangan coba kalian bertanya mengapa aku begitu membenci Umi. Hanya aku dan dua adikku yang paham tentang itu. Kalian mungkin disayangi secara utuh ketika masih usia sekolah dasar, diantar sekolah, dibekali makanan, dibelikan barang-barang kesayangan, dituruti hobi, disayang-sayang jika sakit, dipahami jika telah kalian beri alasan atas ketidakmampuan atau keengganan kalian melakukan sesuatu, dirayakan ulang tahun. Aku, tidak, kedua adikku juga tidak.

Setiap mengenang Umi, aku membayangkan bagaimana setiap pecah fajar ia datang membangunkan kami di rumah Nekgam dengan repetan. Sepulang sekolah Umi tidak memperdulikan kami, tidak menanyakan apakah kami sudah makan atau sudahkah kami belajar. Dan Maghrib, puncak petaka hari-hari. Ya, jika tidak mengaji (walaupun sudah beralasan sakit dan Neknong telah membubuhkan obat-obatan di kening kami) demi Allah, Umi tidak pernah percaya. Dengan mata menyala ia katakan, “kalau tidak bangun dan mengaji sekarang, kuparangi leher kalian!”

Umi adalah ketakutan kami, bukan keseganan dan hormat. Tiap Isra’ Mi’raj, apabila ada anak sebaya kami atau satu dua baya di atas kami mengaji di pembukaan, ketika pulang kami akan disindir-sindir. Umi akan mengatakan betapa kami tidak pernah yakin mengaji, bodoh, dan ia pesimis kami akan naik podium menggantikan anak-anak pandai mengaji itu. Lalu dengan suara tegas dia kenang pencapaiannya dulu.

“Masa itu hanya aku yang dipercaya bisa melantunkan ayat-ayat suci. Kecil sekali aku sudah di podium, mengaji,” ujarnya penuh kenangan. Ya, aku percaya. Sampai hari ini bacaan dan lantunan tilawah Umi masih bisa mengalahkan kami.

Dan aku, tentu juga Vodjan, adik lelakiku, sangat membenci masa-masa pembagian rapor. Di rumah, Umiku menunggu dengan wajah sinis. Kami takut menyodorkan rapor padanya, sebab sungguh akan kami temukan repetan sepanjang hari bila nilai kami buruk. Parahnya, ketika aku mendapatkan rangking dua dan tiga, Umi tidak pernah mengucapkan selamat atau berbangga hati. Dikiranya itu biasa saja, tidak ada yang istimewa, tidak perlu dirayakan.

Vodjan suatu kali pernah mencoba membohongi Umi. Pulang mengambil rapor dengan keyakinan penuh disodorkannya buku merah bertuliskan nilai-nilai tersebut pada Umi. Sungguh terkejut keluarga kami mendapatkan angka satu pada rangking Vodjan. Bagaimana mungkin dia mendapatkan rangking satu sedangkan nilai kerapiannya K (kurang.red). Umi menatap lama sekali ke arah adikku. Sembari menunduk Vodjan berkata,”kesal aku, masa guru tidak pernah kasih aku rangking. Ya, sudah, kutulis saja sendiri.”

Aku tidak pernah melupakan semua satir Umi. Segala sindirannya hidup dan mengalir di kepalaku serupa sungai abadi. Bertahun-tahun kujaga dengan baik ucapannya. Satir Umi menjadi siluman yang merasuki jiwaku dan sungguh menyiksa. Siluman itu ingin menikam lawan, tapi selalu gagal. Maka, semakin lama, siluman-siluman itu muncul dan muncul sampai sudah tak terhitung. Aku harus melunaskan satu persatu siluman tersebut dengan melakukan pencapaian-pencapaian.

Maka ketika suatu sore Teungku Mawardi datang ke rumah kami dan mengabarkan pada Umi bahwa aku dipilih untuk menjadi pembaca tilawah pada pembukaan acara Isra’ Mi’raj, aku merasa sudah melepaskan seekor siluman besar. Namun, dengan raut biasa saja Umi kabarkan padaku permintaan itu. Bukankah semestinya dia menunjukkan binar bahagia? Tidak, sama sekali tidak. Sore itu Umi hanya meninggalkan satu ucapan, “jangan bikin malu keluarga nanti di podium!”

Begitulah, beberapa kali aku dipercaya mengaji di acara-acara di kampung, Umi sudah tidak terkejut. Suatu ketika terpilih juga aku sebagai imam shalat jenazah pada lomba di kecamatan. Kami menang, juara pertama, Umi juga biasa saja. Dia tidak mengatakan selamat dan tidak juga memberikanku hadiah. Aku meraih juara dua di sekolah, tidak ada pujian. Aku juara pertama lomba balap sepeda, umi hanya biasa. Aku menjadi pelantun utama Dalail Khairat, Umi santai saja. Aku juara tiga lomba pidato di pesantren, dikalahkan adikku, Vodjan, yang juara pertama, umi hanya tersenyum. Menyindirku lagi, menertawakan kekalahanku.

Suatu ketika, seorang yang sangat mencintai kekasihnya itu menerima keadaan betapa takdir untuknya tidak semuluk harap. Ayah meninggal. Umi lemah. Dan Tuhan di Lauhil Mahfudh, begitu paham pada kebaikan segala keputusannya. Segalanya berubah di rumah kami, segalanya menjadi beda pada Umi.

Satir-satir Umi terus memburuku. Siluman-siluman itu telah tumbuh dan menjadi perkasa. Dan percayalah, hanya dengan melunaskan siluman-siluman yang membiak di kepala tersebut aku bersemangat melakukan penaklukan. Ketika aku lulus masuk dua perguruan tinggi negeri di Banda Aceh, Umi menyerahkan pilihan padaku. Di kampung, ia kabarkan berita bahagia pada tetangga agar banyak orang tahu. Tatkala kukabarkan padanya tulisan pertamaku dimuat di koran lokal, Umi meminta kukirimkan padanya.

Dan maka sekarang, tiap mengenang Umi akan sesak dadaku. Begitulah ia membangunkan kami dari lalai dan memaksa kami berpikir serta melakukan penaklukan. Begitulah cara ia mengentaskan bodoh kami, dengan terus mengumbar ketidaksenangan. Begitulah ia memberi perhatian, dengan seolah-olah tidak memperhatikan.

Bila kutelpon, dia memintaku menyanyikan qasidah pembaktian terhadap kedua orang tua. Umi begitu sumringah manakala menerima warta bahwa aku menjadi juara baca puisi, begitu juga saat ia tahu aku memenangkan banyak hal lain. Hanya saja ketika kukabarkan padanya aku punya pacar, Umi menyindir, ”pasti akan putus lagi!”

Seperti juga kalian, aku mencintai perempuan yang melahirkanku tanpa cela sama sekali. Dan dia hidup padaku. Seperti juga kalian, aku kerap merinduinya sampai tak bisa menahan tumpah tangis. Dan dia abadi. Seperti juga kalian, aku tidak pernah bisa mengutamakan siapa pun bahkan diriku sendiri lebih dari Umi. Dan tidak terganti. Tapi tidak seperti kalian, aku sering tidak menelpon Umi sampai dua pekan hanya untuk membuat dia marah dan mendengar dia bertanya, “masih ingat suara siapa ini?”

(KJ, 17 April 2014)