Tuhan Menunggu di Gaza

save children of gaza

Tidak sulit baginya mengangkat debu-debu
lalu dihempaskan ke atap rumah pengirim amplop mair
sehingga tidak lagi kita temukan isyarat pernah ada sebuah
kota yang terus menerus menulis surat ajal dan tidak pula kita
temukan tukang pos yang menghujani lembaran-lembaran kehancuran
yang beralamatkan engkau, Gaza

tapi apakah bukan sebuah kemalangan bagimu
jika ia menyebut Kun lalu benamlah gedung-gedung
hancurlah seteru, kering darah-darah, diam luka-luka
sebab jauh di atas kepak sayap tiran itu
malaikat bersama menjaga terbuka pintu
“pulang ke pelukku,” kata Tuhan
maka nyawa-nyawa syuhada pulang
menerabas pitaloka

Di hadapan kenyataan kami hanya bisa mengeja
doa-doa sebelum lupa pada firman
yang sempat kami pelajari
dan kami baca pelan-pelan
luka kalian
di sini

Dia bisa saja mengirim ababil dan melemparkan batu-batu
lalu kita lihat darah-darah menyerupai syuhada
tapi untuk apa?

Barangkali Tuhan kita yang maha suspensif ingin melihat
bagaimana kita bersatu mengirimkan doa dan kata
dan keluar dari kepengecutan seperti yang
telah ditunjukkan bocah-bocah engkau, Gaza

Di sini
Luka kalian
kami eja pelan-pelan
terus menerus kami pelajari
Dan mungkin Tuhan sedang menunggu
saudaramu bangkit dari tidur gusarnya
menuju pintu-pintu yang ia buka
di atapmu, Gaza

 

(NSA, KJ, 11 Juli 2014)