Apache13: Ini Tidak Seserius yang Kau Pikirkan!

Logo Apache13Oleh Nazar Shah Alam & Ikram Fahmi Sayusuf

Ikram datang pada saya malam itu hanya demi meminta saya menulis cerita tentang Apache13. Saya suruh dia saja yang menulis, dia tersenyum. Dikeluarkan dua batang rokok dari saku tas-nya: Sampoerna Mild, isapan tetap saya. Ia letakkan rokok itu di depan saya tanpa berkata apa-apa. Dasar gembel, disogoknya saya. Dikira semurah itu harga cerita. Untunglah saya sedang tak punya rokok. Jadi sudahlah, saya menulis ini. Biar Ikram senang. Konon, menyenangkan hati anak yatim adalah kebaikan yang akan dicatat Tuhan. Dan sebab bayarannya hanya dua batang rokok, saya meminta Ikram menemani menulis. Sekalian, agar sejarah tentang Apache13 tidak hanya versi kepala saya sendiri. Dia setuju. Lalu mengaduk kopi untukku. Anak baik! Maksudku, gembel baik!

Cerita ini tidak ada pentingnya untuk saudara baca. Ini cuma diniatkan sebagai catatan agar jika kelak lupa, kami bisa membacanya ulang. Dan hanya sebagai penegasan bahwa Apache13 bukanlah band yang serius benar. Kami tidak menganggap ini serius. Sumpah, ini tidak serius. Hanya ada satu yang serius di Apache13, yaitu cerita tentang semua yang telah terlewatkan atau kalian menyebutnya: proses sebuah perjalanan.

20140815_222119Baiklah, Ikram Fahmi Sayusuf bercerita, sedang Nazar Shah Alam menulis serta bertanya. Sesekali Ikram mengitar-kitarkan mata ke seluruh ruangan sembari memutar-mutar rokok Surya 16-nya. Di dalam bungkusan rokok Surya 16 Ikram, terselip dua batang Gudang Garam Merah. Katanya biar menyerupai dukun. Entahlah, dia memang percaya mistis. Lihat twitter-nya, dia mem-follow akun ramalan bintang. Dan Nazar Shah Alam yang selalu khusyuk menulis itu menjepit rokok Sampoerna Mild di antara kedua buntal bibir.

Bermula alasan catatan ini ditulis sebab sasuatu yang mana tahu. Mana tahu Apache13 serius benar-benar bisa terkenal kelak, mana tahu suara yang tidak serius ini malah bisa didengar sampai 20-30-40-50 tahun kelak, mana tahu Anda akan menjadi salah seorang penggemar atau penikmat lagu-lagu Apache13 kelak, serta mana tahu-mana tahu lainnya, setidaknya jika ada yang bertanya, Anda bisa tahu bagaimana semua ini bermula. Sebab sejarah selalu sulit dicari pangkal cerita, maka jika kelak ada yang membutuhkan kabar Apache13, setidaknya tulisan ini bisa menjadi penerang. Jadi, jika di masa depan ada yang mencari dokumen sejarah Apache13, maka inilah dokumen yang valid. Ditulis oleh dua orang yang keduanya pendiri Apache13. Ditulis tanpa manipulasi.

Beberapa orang akan mengira ini terlalu berlebihan. Terserah! Bagi kami, tidak. Ini upaya untuk menjaga dan melestarikan ingatan. Ada yang mengira ini ditulis terlalu awal. Tidak juga. Apanya yang terlalu awal? Toh kami tidak benar-benar serius. Sesuatu yang tidak pernah serius tak perlu ditunggu awal dan akhirnya. Biarlah kami menceritakannya sekarang. Selagi segalanya masih bisa diingat dengan apik, selagi nafas kami masih dipompa dengan baik.

Apakah Apache13 sudah terkenal? Ya, dikenal sepanjang aliran frekuensi Aceh TV. Banda Aceh-Indrapuri. Luas sekali. Tapi perlulah sedikit dikabarkan bahwa ketika tulisan ini kami ramu, Apache13 sudah menyelesaikan semua hal menyangkut rekaman. Jadi tinggal menunggu lagu-lagu Apache13 selesai mastering lalu kami bikin video klip, lalu kami jual, Anda beli, Anda dengar dan nikmati, lalu Anda akan mengagumi kami. Atau Anda beli, Anda dengar, tapi tak bisa Anda nikmati, Anda buang kaset kami ke tong sampah dalam bentuk pecahan dan beling sebab mengira telah rugi, Anda akan memblokir akun medsos kami sebab jijik. Tapi kami, sekalipun tidak serius, adalah orang-orang yang jarang pesimis ketika melakukan sesuatu. Dan kami sudah siap atas bagaimana pasar menerima lagu-lagu Apache13. Jika tak siap, mana mungkin kami rekaman. Begitulah, sebagai pendiri, Nazar dan Ikram yang berkuasa telah mengambil keputusan. Dan semua sudah dilakukan. Dengan baik.

Di Piasan Seni ta1016360_485041481583817_1349075662_nhun 2013, suatu hari antara Rabu atau Kamis. Muhadzir Maop​ menelpon Nazar untuk meminta tampil mewakili stand sastra. Sebelumnya, kami sudah sering mengamen untuk acara-acara amal menyanyikan lagu-lagu Ari Wibowo. Anggota mengamen saat itu: Nazar, Ikram, Husni, Giza, Ham, Kaidir, Oji, dan Eka. Permintaan yang buru-buru itu membuat kami agak-agak kelabakan. Untunglah jelang Subuh di hari pementasan, akhirnya Nazar, Ikram dan Husni berhasil membuat lagu pertama band kami, “Dena”. Kami sempat ingin memakai nama “Bunga” atau “Fia” di lagu itu. Tapi “Dena” lebih netral. Nazar, Ikram, Husni, dan Giza adalah komplotan pertama yang menjadi bidan bagi berdirinya Apache13.

Penampilan perdana kami sebagai band hari itu membawa dua lagu: “Dena” dan “Rindu Mawo”. Lagu “Rindu Mawo” adalah karya Nazar jauh sebelum band ini ada. Sebab belum punya nama, hari itu band kami dipanggil PPG (Pria-Pria Ganteng). Adapun PPG ini adalah nama kelompok muspus humor Na0f3e2e38e62a3643b41b6f0fa56c54a9zar di kampus. Turun dari panggung, malamnya kami diberi nama Puepshoq oleh Fuady S Keulayu​. Dengan Fuady kami sempat tampil sekali di acara penyambutan mahasiswa baru FKIP Unsyiah. Penerimaan dengar mahasiswa baru tersebut atas lagu “Dena” sangat baik. Dengan nama Puepshoq kami juga tampil di panggung apresiasi PKA 5.

Selanjutnya Husni keluar dari Puepshoq, Amek datang. Kami mengganti nama Puepshoq dengan Apache13 seiring dengan masuknya Amek. Demi menghargai karya Husni atas lagu-lagu yang ia ikut ciptakan: Dena, Bek Galau Sabee, Amoy, maka lagu-lagu itu kami museumkan. Biar kayak band-band terkenal.

Nama Apache13 pertama kami pakai 9 Desember 2013. Bertepatan dengan penampilan kami di hari Anti Korupsi. Malam itu formasi Apache13: Nazar, Ikram, Amek, dan Oji DubRuk-ker’s​. Oji sebenarnya bukan pemain perkusi, tapi pemain rapa’i. Tapi sebab sama-sama alat musik tabuh, ya sudahlah. Pakai Oji. Maka jangan heran kalau tabuhan jimbe Oji macam tabuhan rapa’i. Lagi pula saat itu tukang main jimbe kami kerap menolak tampil dengan alasan-alasan tak jelas. Dengan Oji kami sempat tampil tiga kali. Di acara-acara Gemasastrin Unsyiah. Selanjutnya posisi Oji di perkusi dipegang oleh Hamdani.

Apache13Lagu Apache13 yang pertama tercipta adalah “Keugalak-Galak (Mona)”, lalu “Leumoh Aneuk Muda”. Keduanya diciptakan oleh Nazar. Kedua lagu tersebut menggunakan lirik yang ringan, mudah dipahami dan diikuti. Dari sanalah konsep lirik simple itu bermula. Lalu, chord musik Apache13 juga tidak begitu rumit. Jika kalian ingin menyanyikan lagu-lagu kami, pakai saja kunci-kunci standar.

Ikram datang suatu malam membawa konsep lagu “Meulati”, sampai hari ini Nazar masih sangat menyukai lagu itu. Awalnya “Meulati” dinyanyikan sendiri. Namun, seiring waktu, Nazar mulai berpikir menyanyikannya dengan cara duet. Ikram mengaminkan keinginan itu. Pasangan duet pertama untuk lagu “Meulati” adalah Fitria Winanda​. Dia selesai kuliah, kami menyanyikannya dengan Cutkak Putro Husnul Khatimah​. Dia pulang kampung, kami mulai jarang membawa lagu itu di panggung.

kkLagu-lagu Apache13 selalu gembira. Itu menggambarkan kebiasaan di band ini. Kami tidak pernah berseteru satu sama lain kecuali mengenai chord atau nada. Ketika menciptakan lagu, jika Nazar menciptakannya sendiri, Ikram datang membersihkan musiknya. Amek kerap bertugas mencari chord dasar. Selalu begitu. Itulah mengapa Amek dan Ikram adalah bagian utama yang tidak bisa dipisahkan dari lagu-lagu yang diciptakan Nazar. Dan untuk lagu-lagu yang mereka cipta, Nazar selalu bertugas membuat lirik yang sesuai dengan karakter Apache13. Betapa romantisnya. Huhuhu

Apache13 kemudian rekaman. Biaya rekaman dibantu penuh oleh Adi Khairi​. Lagu pertama yang kami rekam adalah “Leumoh Aneuk Muda”. Nazar, Amek, Giza, Teuku, dan Ham yang mengisi lagu tersebut. Tidak ada Ikram malam itu. Dia terserang malaria sehingga membuatnya tidak bisa mengangkat telpon. Teuku mengganti Ikram di melodi. Dia pernah tiga kali tampil dengan Apache13: Aceh TV, Ulang Tahun KJ, dan Radio PMI.

10881675_1036181729731985_7766037828081097554_nLalu kami sepakat membuat album. Tentu saja sekaligus dengan video klip. Seperti dulu, Adi Khairi adalah sumber dana kami. Bravo manajer!

Menjelang rekaman album, ketika Giza, Teuku dan Ham sulit mencocokkan waktu, Nazar dan Ikram sepakat mencari anggota baru untuk mengisi bass dan lead guitar. Kebetulan Nazar berkenalan dengan Fendra yang bisa lead dan Ikram mempunyai teman yang bisa bass. Ikram menggantikan Ham di perkusi. Seluruh musik diisi oleh masing-masing: Nazar (vokal), Ikram (perkusi), Amek (gitar), Arie (bass), dan Fendra (lead guitar).

Sebagai seseorang yang memiliki naluri musik yang baik, Ikram telah berhasil meyakinkan kami sejauh ini untuk terus berkarya. Kedatangan dia selalu bisa memberikan semangat. Rasa-rasanya, hampir setiap kedatangannya kami selalu bisa berpikir tentang konsep lagu-lagu baru. Ada banyak lagu nakal Apache13, tapi tentu tidak semua bisa diperdengarkan secara luas. Dan Amek, dia punya dedikasi yang tinggi untuk Apache13. Amek tidak pernah absen mendampingi Apache13 di panggung. Sampai ke Abdya, dia selalu ada. Dan Nazar, dia wajib ada. Fardhu ‘Ain. Dan memang selalu ada.

10432133_675626942484409_517921592236285207_nJauh sebelum ini, kami sepakat bahwa Apache13 berdiri tidak semata-mata demi materi. Kami sadar, seni tak bisa dibeli. Dan ketika akan masuk rekaman pertama kali, kami sudah sepakat bahwa lagu ini hanya akan direkam, tidak untuk macam-macam. Bukan untuk uang, ketenaran, penghidupan, apalagi menggantung masa depan. Jika untuk materi dan masa depan, cari pekerjaan lain sana. Lagu-lagu yang kami miliki adalah sebentuk keterangan bahwa pada masa muda kami pernah memiliki karya yang menyenangkan. Kelak, ketika tua, sembari meneguk kopi sore hari di teras bersama keluarga, jika rindu masa muda itu tiba, kami bisa memutar itu semua.

11938828_965479430139695_108391884_nApache13, saudara-saudara, pernah diminta serius oleh beberapa orang. Kami tidak akan menuruti itu. Ini hanya bagian dari semangat berkreativitas masa muda kami. Tidak lebih. Kami mendirikan ini sebagai tempat melunaskan hawa nafsu bermusik semata-mata. Janganlah saudara menganggap ini terlalu istimewa. Kami selalu siap turun ke jalan, mengamen untuk amal. Panggung kami? Kalian bisa meminta kami bernyanyi di padang rumput, di trap-trap rendah, di pasar ikan, di depan ibu-ibu majelis taklim, di panggung-panggung sederhana, di mana saja. Kami tidak mau menjadi artis dan tidak juga berharap amat terkenal. Lalu, mengapa kami merekam dan menghabiskan banyak uang Adi Khairi untuk membayar banyak hal? Sudah kami terangkan alasan mengapa merekam. Dan tentang Adi Khairi, dia berkepala bisnis. Dia tahu cara mengembalikan modal.

Wassalam

Nazar Shah Alam & Ikram Fahmi Sayusuf