Mantra: Kata-Kata

Di kampung kami, seorang sakit seringan atau separah apa pun awal atau akhirnya pasti akan dibawa ke dukun. Baik mereka yang sudah menyerah dengan medis atau memang tidak cukup uang ke rumah sakit. Dukun (masih: di kampung kami) berkonotasi ganda: penyembuh dan tukang tenung. Padahal untuk penyembuh, saya bisa saja menggunakan kata “tabib”. Tapi sebab di kampung kami semua disebut dukun, maka sepanjang tulisan ini kusebut dukun. Semata-mata sebab aku ingin menghargai orang kampung.
Dukun melakukan proses penyembuhan dengan dua cara, yaitu dirajah (di tempat lain juga disebut “disumbo”) yaitu dibacakan mantra-mantra, atau diberi ramuan yang diramu sendiri. Tidak ada seorang pun dukun di kampung kami yang tidak pandai meurajah. Mereka yang diberikan gelar D.U.K.U.N hanya yang telah dianggap kamil dalam menguasai mantra-mantra. Serta tentu saja telah teruji kemanjuran upayanya.
Membaca neurajah (mantra) di satu sisi adalah jalur penyembuhan: dirajah dulu baru diberi ramuan. Di sisi lain meurajah menjadi cara bagi mereka (para dukun) menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang mumpuni, berilmu, dan tak dusta. Ya, semacam lisensi atas kedukunan dan kemampuan mereka mengobati orang lain.
Dan mantra yang dibacakan ketika meurajah oleh seorang dukun, percayalah, sebenarnya mutlak hasil cipta manusia. Kata-kata yang diramu sedemikian rupa, dipercaya bisa memunculkan kesaktian, dan dengan kehendak alam memang berhasil menyembuhkan. Mantra itu, sekali lagi, mutlak kata-kata belaka. Orang di kampung kami terbiasa dengan itu. Terbiasa percaya bahwa kata-kata bisa dijadikan alat untuk menyembuhkan sakit yang bahkan di medis pun belum ditemukan penawar.
Hari ini sebuah cerpen saya “Celaka” dimuat di koran Serambi Indonesia. Cerpen, bagaimana pun juga itu hanyalah kata-kata. Kata-kata yang diramu sedemikian rupa, dipercaya bisa menyampaikan sebuah kabar, dan dengan kehendak redaktur berhasil berlabuh di koran. Tiba-tiba hari ini saya menyadari bahwa dalam diri saya rupanya telah mengalir takdir dukun. Takdir meramu kata-kata yang bisa memunculkan kekuatan menjadi cerita. Terserah apakah sudah memiliki lisensi atau belum, tapi setidaknya sudah di atas jalur.
Perihal meramu kata-kata yang bisa memicu kesembuhan, saya dan salah seorang teman sudah merasakan keabsahan kepercayaan ini. Saya menulis cerita atau puisi ketika merasakan sakit yang hebat, teman saya menulis lirik lagu. Benar rupanya ampuh, setelah itu semuanya terasa ringan. Perlahan-lahan menuju sembuh.
Maka, menulislah dengan tekun dan berjuang. Semoga manjur jadi penawar!
NSA, Darussalam, 31 Januari 2016.