Hukum Kausal antara Sie Meugang dan Lamar Adek nyan


13624747_656315711199267_231372831_n(MINTA KAWIN II)

Pagi masih jelaga. Belum pun azan. Di kamar saya yang tak terkunci umi menarik ujung tilam. Membangunkan tidur saya yang baru sebentar.

Beudoh, jak u pante!” kata umi. Saya bangkit sekalipun malas dan lemas belum benar-benar pergi.

Sebagai anak bujang satu-satunya di rumah, sebab adik lelaki saya masih di rantau, perkara membeli daging meugang sudah tentulah menjadi tanggung jawab saya. Dan perkara daging meugang, betapa hinanya engkau sebagai lelaki jika tak mampu membeli ini. Terserah sekecil apa pun jumlahnya, terpenting di tanganmu pada hari meugang ini harus ada daging terjinjing. Apalagi ini meugang menyambut lebaran Fitri. Kau bisa dimaafkan jika tak membawa pulang daging di meugang hari raya Adha, tapi tidak untuk hari ini.

Pagi sedikit lepas dari jelaga. Sayup azan. Setelah shalat, saya mengeluarkan kendaraan. Jalan mulai ramai. Seperti sudah terang. Para lelaki berangsur-angsur menyerbu tempat penyembelihan. Pante.

Pante–huruf /e/ dilafal seperti kata “lotre”, adalah kata ganti tempat untuk zona penyembelihan daging di hari Meugang. Secara harfiah “pante” berarti pantai. Dan pantai menurut KBBI adalah…(silakan isi sendiri). Disebut “pante”, menurut amatan saya, karena pemilihan tempat menyembelih sekaligus menjual tumpukan daging itu letaknya di tubir-tubir sungai besar. Tubir sungai itu disebut juga /reuleung/ jika sungainya kecil dan tempatnya tak luas. Artinya, ia (tubir itu) disebut “pante” adalah sebab tempatnya luas dan terletak di tepi sungai.

Di pante, harga daging mencapai 180 ribu/kilogram. Saya merogoh saku, memeriksa persiapan. Umi tidak membekali apa-apa ketika saya akan ke sini kecuali anjuran membeli hati, daging, kulit, dan tulang dalam porsi tertentu. Kami punya keluarga besar dan terbiasa kenduri untuk arwah tiap malam lebaran. Saya tidak menyangka harga daging meugang hingga setingkat itu. Sebab malas pulang lagi karena tempatnya jauh, saya beli saja hati dan daging seberapa uang yang ada di saku.

Tiba di rumah, matahari sudah pecah. Umi menatap bawaan saya dengan tatapan tak begitu indah.

“Ini seberapa ada dulu, Mi. Malas bolak-balek tadi,” saya berkilah sebelum ditanya. Umi tidak menyahut, kecuali masuk membawa jinjingan daging yang saya serahkan padanya.

Yum sie meugang sikilo tok 180 ribe, talake 5 kilo, tapi han ek trok dum talake. Pakiban cara tapeutrok yum jeulame nyang sijuta lapan simayam? Peu lom meunyo ilake 15 mayam. Hana daya lom aneuk muda!” sindir umi dari dapur.

Panas telinga saya. Tanpa menjawab, segera saya telpon teman, meminta ia melunaskan utang saat itu juga. Hilang ketidak-tegaan saya pada teman yang bersangkut utang. Teman saya itu, sungguh celaka, malah tertawa di telpon ketika saya sampaikan alasan. Ia segera meminta saya datang ke rumahnya di luar kecamatan. Setelah mengambil uang, saya kembali ke Pante, membeli masing-masing pesanan Umi dua kilogram, ditambah bumbu lengkap, ditambah seekor ikan tongkol kesukaan umi yang berukuran besar, ditambah empat kilo buah rambutan.[]

NSA, 5 Juli 2016

Glosarium:

  1. Beudoh, jak u pante! : Bangun, lekas ke pante!

  1. Yum sie meugang sikilo tok 180 ribe, talake 5 kilo, tapi han ek trok dum talake. Pakiban cara tapeutrok yum jeulame nyang sijuta lapan simayam? Peu lom meunyo ilake 15 mayam. Hana daya lom aneuk muda!

(Harga daging perkilo cuma 180 ribu, diminta 5 kilo, tapi tak pun sampai sejumlah diminta. Bagaimana caranya menyanggupi harga mahar yang satu juta delapan ratus ribu permayam? Apalagi kalau diminta 15 mayam. Belum mampu, anak muda!)