Perkara Baju Baru

18191761_836060296558140_1993751006_nOleh Nazar Shah Alam

Syahdan, sudah jadi macam tabiat bagi kami, anak-anak kampung ini, membeli baju pada saat-saat tertentu saja. Tidak kapan mau, tidak kapan suka. Pasalnya, di kampung, pakaian baru (secara umum disebut: baju baru) tidak begitu berguna. Toh, sehari-hari kau hanya akan mengenakan seragam sekolah dari pagi ke siang, jika kau sekolah, jika tidak, kau hanya akan mengenakan pakaian kerja serabutan dari pagi, siang ke sore. Memakai pakaian trendi (semacam kaos atau kemeja bermutu KW yang hanya menang di kebersihan dan kerapian) antara pukul 4 sore ke pukul 6, lalu harus memakai pakaian mengaji (sarung, koko atau kemeja, dan peci) sejak habis Maghrib ke tengah malam. Catatan penting, hanya anak-anak yang sudah putus mengaji yang mengenakan pakaian trendi dari sore sampai malam.

Barangkali sebab itu dan mungkin juga bagi kami yang tinggal di kampung, baju baru masih dianggap sebagai barang mewah. Dalam artian, ada hal lain yang sangat perlu diutamakan daripada memenuhi isi lemari dengan pakaian. Tentu salah satunya isi perut dan kebutuhan rumah tangga. Maka sekali lagi, kami hanya membeli baju baru pada saat-saat tertentu saja. Sejati dan umumnya “saat-saat tertentu” itu hanya ada dua, yaitu lebaran Fitri dan lebaran Adha. Baju barumu dibeli orang tuasesuai selera mereka. Terkadang kau boleh memilih sesuai seleramu, tapi itu harus melalui proses sakit hati tak tertanggungkan sebelum diaminkan itu. Atau setelah membeli, orang tuamu akan melancarkan aksi protes berkepanjangan sehingga tak bahagia baju baru itu kau kenakan.

Ketika usiamu menginjak remaja, manakala di hatimu mulai bertamu lebah-lebah yang membawa sengat asmaraloka, maka “saat-saat tertentu” itu bisa jadi bertambah dua: Meugang dan Rabu Abeh. Modalnya dari orang tua. Kita harus pintar-pintar mengolah permintaan agar tak dicurigai akan membeli sesuatu yang tidak berguna. Alasan paling banyak untuk memudahkan pencairan dana dari saku ayah adalah kebutuhan sekolah. Nyatanya, dana tersebut diallihkan dengan belanja baju baru di pasar. Tidak lupa sebiji kacamata dan kain bandana. Biar macho macam anak muda di film-film saat kau mengenakannya.

Lazim sudah di kampung-kampung padajelang bulan Ramadhan atau seminggu sebelumnya orang-orang akan bertamasya dengan keluarga. Tidak jelas untuk apa. Tapi yang pasti, ritual ini sudah berlangsung lama dan dinikmati sebagai bentuk berbahagia menyambut bulan penuh berkah. Mereka membawa makanan dan menikmati kebersamaan. Anak-anak muda juga memanfaatkan momen ini untuk mengajak bermain kekasihnya di tempat-tempat rekreasi ternama.

Membeli baju Meugang dan atau Rabu Abeh bagi remaja┬ásemata-mata demi bergaya kepada gadis-gadis muda yang kau taksir di sekolahmu. Kau akan mencari tahu ke pantai, laut, atau tempat wisata mana ia dan keluarganya menghabiskan masa liburannya. Lalu dengan seorang teman terakrabkamu akan ke sana jua. Tidak muluk, sebatas melintas di depannya, lalu ketika bersitatap kamu pura-pura terkejut berujar, “eh, ke sini juga ya?”

Nakal!

Jika usiamu sudah menginjak dewasa, “saat-saat tertentu” akan bertambah lagi satu: saat mengambil gaji pada mandor pekerjaanmu. Tentu saja penampilan pada usia ini sudah menjadi bagian pertimbangan. Kau harus memberikan kesan sebagai lelaki yang tak urakan di depan gadis-gadis yang kau taksir atau sudah menjadi kekasihmu. Baju baru itu akan kau gunakan pertama sekali ketika bertemu dengannya, berharap-harap dia tahu dan peka bahwa hari itu kau pakai baju baru hanya demi dia. Selain itu, kau tentu tahu, setiap gadis menyukai pemuda yang berpakaian bagus. Mereka punya gengsi ketika sesamanya. Mereka akan saling membanggakan lelakinya. Maka rajin membeli baju baru, bagi kita anak-anak muda kampung ini, penting rasanya. Demi dia.

Seseorang pernah bertanya padaku, apakah membeli baju baru pada “saat-saat tertentu” itu perlu? Menurutku iya, tentu saja. Bagi anak-anak, itu akan menambah semangatnya. Bagi remaja, sukak hati mereka sajalah. Kita bisa apa?┬áBagi dewasa, sangat-sangat perlu. Sekali lagi, demi kemaslahatan mata dan hati adek itu. Lalu bagi orang tua yang sudah berumah tangga? Perlu juga, sebab ketika kau menghabiskan waktu bersama bertahun-tahun, sesekali kau perlu membuat mata kekasih hidupmu berbunga. Sebab hanya memakai pakaian kerja setiap harinya akan menimbulkan kebosanan. Apalagi kalau sempat setiap hari hanya pakai baju partai. Apa macam?[]