Aku adalah Anak yang Dikawal Restu Ibu

Berjalan hingga jauh, mendapatkan banyak halang rintang, sendiri aku. Beberapa teman membantu. Memudahkan dan menjadi lentera untuk membunuh pekat tapakan. Menjadi sangga tulang. Tapi untuk sebuah susuran panjang, peta yang baik tetap saja amanah perempuan yang melahirkanku. Aku adalah anak yang menyusuri jalan sesuai peta ibu.
image

Berpikir hingga lelah, mendapat banyak resah, sendiri aku. Beberapa teman ada bagai kopi melawan kantuk, asyik masyuk, tapi obat paling membahagiakan adalah setiap kudengar suara ibu berkata, “itu bukan masalah terburuk.” Aku adalah anak yang dipinjamkan kekuatan ibu.

Seorang teman bertanya mengapa aku kerap lunas dari lubang petaka. Dia pernah menjadi saksi kala angin gila datang dari segala tepi, menghantam tubuhku tanpa peri, ia temukan aku selamat serupa tadi. Aku menjawab, jika kebencian dan kutuk orang adalah deras hujan, maka doa ibuku adalah payung yang meneduhi aku berjalan. Rembes air akan jatuh ke wajah, titik-titik basah di baju, tapi aku tak akan kuyup seperti orang-orang tak berpayung itu. Aku adalah anak yang dipayungi doa-doa ibu.

Usaha hingga lemah, bergerak sampai tak mampu, aku meletakkan wajah ibu di depan wajahku. Terkadang lelah, sakit parah bangkit menghimpit tubuh. Pernah kau temukan aku berhenti sebab itu? Tidak. Sebab jika aku berhenti dan mengadu, ibu memintaku istirah. Dan istirah akan mengandaskan keinginan yang terlanjur gebu. Bahwa setiap pucuk upaya hanya demi memenuhi segala mimpinya sebelum memenuhi semua mimpiku. Aku adalah anak yang berjalan demi mimpi-mimpi ibu.

Dirintang ragam bala, dicoba bunuh aku, ditumpas semangat dan dipatahkan laju. Berdiri aku. Kadang dibenci, kadang disulut, tapi arus asaku tak surut. Setiap yang menghadang akan jadi musuh, sebab ia sudah mencoba menggagalkan inginku memenuhi harap ibu. Setiap dendam akan ditulis agar jika lupa suatu waktu dan terjebak lagi aku bisa mengingatkan diri dengan membaca kembali itu buku. Dan setiap yang menghadang peraihanku mencapai harap ibu, abadilah kita bermusuh. Aku adalah anak yang dilahirkan untuk mewakafkan diri menggapai mimpi ibu.

Diam, berhenti aku. Setiap akan lelap entah apa sebab, selalu kudengar suara sayup, “cepatlah jaya, anak sulung. Selalu ada doa dari rahim yang menjagamu!”. Aku adalah anak yang dikawal restu ibu.

 

Sumber akun Steemit saya: https://steemit.com/story/@gulistan/aku-adalah-anak-yang-dikawal-restu-ibu-20171026t1525818z