Perbandingan-Perbandingan

Sebelumnya rasanya sangat perlu saya tegaskan bahwa ini bukanlah tulisan sastra, tidak bermajas apa-apa. Jadi apa pun yang tertulis di dalamnya, tidak perlu dimaknai apalagi dicari-cari maknanya. Baca saja. Sekali lagi, ini bukan tulisan penuh perumpamaan. Hanya catatan biasa. Udah, gitu aja.
***
Mungkin memang sudah kodratnya kita kerap suka membanding-bandingkan. Menyorot kebenaran dan kesalahan seolah-olah kita paling paham. Menilai baik dan buruk seperti kita paling pintar. Menghitung-hitung pencapaian antar orang seolah-olah di tangan kitalah terdapat kemutlakan.
Namun kita tidak begitu suka atau bahkan marah ketika dibanding-bandingkan, tatkala kita berposisi kalah dalam perbandingan, tentu saja. Namun manakala perbandingan seseorang lebih menguntungkan kita, membesarkan kita, memuji kita, atau kita dianggap lebih daripada yang dibandingkan, kita tidak akan menolak. Begitu, kan?
 
Ketika masih sekolah, temanmu mendapatkan peringkat bagus, kamu jelek, dalam ceramah kekecewaan ibumu, ia akan membanding-bandingkan kamu dengan temanmu itu. Jika kamu jahat, temanmu baik, dibanding-bandingkan juga, malah disuruh contoh perilaku temanmu pula. Bila di tempat mengaji, teman sepantar bayamu lebih cepat naik Al Quran, di rumah kamu akan mendengar ceramah yang punya selipan perbandingan di mana kamu sebagai orang kalah. Itu semua mengesalkan.
 
Saat kuliah, teman-temanmu sudah selesai, kamu belum, bersiaplah dibanding-bandingkan. Sebagian perbandingan datang dari orang tua, selebihnya dari keluarga besar, tetangga, orang kampung yang awam dan suka mencela, bahkan calon mertua. Terkadang kamu akan membela diri dengan mengatakan betapa temanmu yang cepat selesai kuliah itu karena ia hanya kuliah saja, tidak melakukan hal-hal berguna lain di kampus atau pun di luar sana. Tapi percayalah, pembelaanmu akan sia-sia.
Dalam hal asmara, kamu kerap membanding-bandingkan mantan pacar dengan pacar yang sekarang. Seolah-olah yang sekarang lebih baik. Padahal tidak mutlak demikian. Ada juga, seseorang tidak diterima cintanya sebab setelah dibandingkan dengan orang lain atau dengan orang-orang sebelum kamu, dia serba kekurangan.
 
Teman-teman sepantar baya denganmu kelak sudah bekerja, dapat kehidupan layak meski dari hasil kreditan, kamu juga akan menerima hukuman berupa perbandingan. Nanti teman-temanmu menikah, ada saja ruang yang bisa dimanfaatkan oleh keluarga besarmu sebagai perbandingan.
Kita juga sering membanding-bandingkan harta orang dengan harta kita, merasa hidup orang lain lebih nikmat dan penuh rahmat, sementara kita sengsara tak beralamat. Merasa orang lain sudah berhasil, kita masih harus pontang-panting berjuang. Merasa punya orang lebih bagus, yang kita miliki kurang. Macam lainnya.
Sekarang Piala Dunia, kamu tahu salah satu yang paling membosangkan? Ketika di warung kopi kau dengar orang-orang masih terpaku membanding-bandingkan Messi dengan Ronaldo. Sehingga seolah-olah sepakbola hari ini hanya mereka berdua, padahal ada 32 negara kontestan yang masing-masingnya memiliki 22 pemain yang dibawa serta. Masih berbicara Madrid-Barcelona. Seolah hanya ada dua tim sepakbola raksasa di seluruh jagat raya.
 
Tadi di warung kopi seorang penonton malah dengan berani membanding-bandingkan rasa kopi warung tersebut dengan warung sebelahnya. Dibanding-bandingkan pula pelayanan antara keduanya. Alhasil, dia ditarik keluar oleh pemilik warung, diantar ke warung sebelah. Kami semua tertawa, menertawakan penonton tersebut. Dia malu juga ternyata, bergegas dia bangkit beranjak dari tempat tadi ia diantar. Lagi-lagi kami tertawa.
Tapi itu masih lumayan. Ada seorang kawan kami, entah sebab Argentina seri dan ia kalah judi, perbandingannya jadi ngelantur. Dia membandingkan Messi dengan Valentino Rossi. Katanya, jika dibanding-bandingkan, menonton Messi bermain bersama timnas Argentina tidak semenarik melihat langsung Rossi bermain di sirkuit Sepang Malaysia. Maksudnya?