Tik Tok dan Generasi Kencing di Sumur Zam-Zam

Saya yakin saat ini hampir tidak ada dari kita yang tidak mengenal Tik Tok. Aplikasi ini sangat diminati oleh generasi masa kini dan sudah menjadi pembicaraan hangat, naik daun di Indonesia. Di Playstore terdeteksi aplikasi Tik Tok sudah diunduh oleh 50 juta kali meski punya rating 4.6. Luar biasa.

Jika jumlah penduduk Indonesia sebanyak 262 juta jiwa, dan setengah daripadanya adalah anak muda, maka setengah dari jumlah anak muda Indonesia sudah mengunduh aplikasi ini. Jika setengah sisanya dibagi dua, antara kudet dan tidak terpengaruh, maka masih lumayanlah. Setidaknya masih ada 25% dari jumlah keseluruhan anak muda yang selamat dari godaan Tik Tok yang terkutuk itu.

Mengapa terkutuk? Padahal itu hanya sebuah aplikasi. Dan aplikasi hanyalah aplikasi, ia tidak bisa apa-apa tanpa pengguna, tidak ada dosa padanya. Namun ketika penggunanya menyalahgunakan ia, buruklah jadinya. Maka Tik Tok dianggap terkutuk sebab banyak pengunduh yang salah menggunakannya.

Di awal-awal kemunculannya Tik Tok masih asyik-asyik saja. Para pemakainya membuat video-video singkat dengan gerakan-gerakan unik, kreatif. Namun seiring ia terdeteksi oleh remaja-remaja kejar viral, hancur sudah. Tik Tok seketika menjelma menjadi aplikasi sangat menggeramkan (kalau tidak dikata: menjijikkan). Para penggunanya semakin kelewatan.

Segala-galanya masuk Tik Tok. Kamu masih ingat mereka yang mempermainkan gerakan shalat di Tik Tok? Masih ingat mereka yang membuat video *hijrah muka*: dari jelek (sebab di-make up) ke cantik atau tampan (juga sebab make up)? Belum lagi sebagian dari mereka membuat goyangan-goyangan vulgar. Rusak, pokoknya.

Generasi muda (remaja dan dewasa muda) saat ini memang sangat tergoda menjadi selebriti. Ingin viral, terkenal, dibicarakan serupa artis-artis di televisi. Namun sayangnya keinginan itu tidak dibarengi dengan karya serta usaha yang tekun, tidak juga dilandasi dengan jiwa terhormat serta harga diri yang tinggi. Hal itulah yang membuat mereka kebablasan. Ujung-ujungnya mencari jalan pintas agar lekas dikenal. Barangkali ada semacam paham yang tertanam di kepala mereka semacam, biar dikenal dengan kekonyolan (yang lebih nampak: bodoh) lalu viral, dikenal, diajak masuk tv, jadi artis, barulah membuat karya. Benar-benar pemegang prinsip: terkenal sebab mengencingi sumur Zam-Zam. Celaka!

Keinginan terkenal dengan cara instan inilah yang kemudian membuat mereka lupa etika dan estetika dalam melakukan apapun di media sosial. Rela mencoreng nama baik demi mendapatkan perhatian. Ini sangat meresahkan. Generasi muda adalah cerminan bangsa. Dengan lahirnya generasi kencing di sumur Zam-Zam ini, cermin bangsa kita benar-benar berdebu. Kamu tahu debu paling banyak disumbangkan oleh pengguna aplikasi apa? Yes, Tik Tok. Huuuufft