Tentang Baju Kesayangan dan Kenangan Itu

Dua cerpen awal saya, “Syair-Syair Pasungan” dan “Catatan Duka Penuh Koma” yang dimuat di Harian Aceh tidak saya ambil honornya segera. Saya biarkan beberapa bulan di sana dengan harapan berjumlah banyak ketika diambil. Namun, pada medio Maret-April-Mei tahun 2010, di kampus sedang banyak-banyaknya tugas. Kiriman dari kampung yang selalu cuma Rp. 150-200.000/bulan hanya mampu menutup mulut cacing sekali sehari serta untuk berjaga-jaga mana tahu sakit atau mendadak butuh.

Suatu hari, di puncak kerisauan saya terhadap tuntutan mencukupkan cetakan tugas, terlintaslah di kepala untuk mengambil honor kedua cerpen tersebut langsung ke kantor Harian Aceh di Lambhuk. Waktu itu honor satu cerpen di media tersebut Rp. 40.000/ judul. Saya meminjam sepeda motor Cut Wirda untuk ke sana dan tentu saja dengan rencana akan mengganti bensinnya.

Setelah mengambil honor, dengan hati gembira saya pelan-pelan pulang melintasi Ulee Kareng. Betapa naas, setiba di sana, mata saya bertemu dengan baju itu. Setan belanja sialan. Saya berhenti di depan tokonya, tawar menawar, jadilah baju tersebut berharga Rp.75.000. What? Itu sangat mahal.

Sebab kadung suka, saya ambil juga. Demi meyakinkan diri saya membuat alasan, kiranya baju itu kelak bisa menjadi kenangan dari karya pertama. Maka demikianlah, tersisa isi dompet saya hanya selembar lima ribu rupiah.

Sepeda motor pinjaman teman itu pun saya pacu. Di hati saya berencana minta maaf padanya sebab tidak mengisi bensin dengan berbagai alasan yang saya agak-agak bisa dimengerti oleh sang empu. Saya kembali memutar akal. Uang sisa bisakah untuk sekadar bertahan? Di tengah mencari alasan yang tepat mengapa tak mengisi bensin, sedikit turun dari jembatan Lamnyong, motor Icut berhenti. Jadi, mau tak mau bensinnya harus kuiisi.

Saya ambil uang tersisa tadi untuk mengisi bensin. Lalu untuk tugas? Seperti biasa, saya harus membabu pada teman yang malas, mengetik tugas mereka, meminta bayaran yang saya kira-kira cukup untuk mengcopy atau cetak tugas-tugas saja.

Sebulan penuh kepala saya disesaki penyesalan sebab merasa telah salah mengambil keputusan. Tapi kemudian, setelah pandai mencari uang di kota orang, penyesalan itu dengan sendiri terlupakan. Dan baju itu, lihatlah, sampai dua tahun lalu masih bisa saya kenakan. Dan ia telah menjadi pilihan utama atas segenap kemungkinan yang akan saya kenakan.

Sebagian besar baju saya hilang setelah berpindah-pindah tempat tinggal, sebagian rusak dimakan rayap dan kecoa sebab terlalu lama bertindih di bawah kain-kain kotor tak tergubris. Tapi baju ini, entah sebab apa tidak pernah disentuh oleh kerusakan bahkan kepudaran, bahkan sekalipun direndam hampir sebulan. Yah, barangkali sebab dibeli dengan imajinasi jadinya kenyataannya tak terimaji.

Jika melirik waktu ia muncul ke kampus, baju ini telah di-DO sejak dua tahun silam. Namun kenyataannya, hingga hari ini ia masih rapi di lemari. Meski sudah lama ia tidak kubawa ke Banda lagi.