Pulangnya Si Intan Payong

 

Ketika mendeteksi ketibaan sang intan payong semalam, saya teringat sepotong syair tua Aceh yang berbunyi /aneuk raja wo deungon dalem/ sajan polem peuseutot lumpo/. Syair yang kerap dilantunkan di panggung-panggung seudati tersebut mengisahkan tentang kepulangan seorang putra mahkota ke tanah air setelah lama berkelana mengejar cita-cita.

Ada semacam suka cita rakyat digambarkan dalam lirik-lirik syair tersebut kala menyambut kepulangan sang anak raja. Semacam tumbuh keyakinan bahwa akan ada perbaikan-perbaikan kembali. Di tangan anak muda, bukankah semestinya segalanya akan lebih lestari? Demikianlah dan entah mengapa saya merasa bahagia ketika nama intan payong terbaca kembali. Saya merasa ada semangat yang tumbuh ulang. Bahagia tak tertanggungkan.

Apa kabar, bang @rismanrachman? Lama tak melihat abang di lapangan. Tidak menjenguk kebun mawar. Saya hanya berharap abang dalam keadaan terbaik. Meski saya tahu ada beberapa hal sedang keruh di beberapa mozaik. Di ruang lain saya bisa melihat intan payong masih nakal. Maka saya tidak begitu risau.

Ruang ini selalu membutuhkan intan payong. Ada banyak gelora yang hilang ketika suara abang terbenam. Kami harua menjahit sayap-sayap keyakinan sendiri dan terbang: sendiri sunyi. Rasa-rasanya semacam dilepas ke angkasa raya dan dipaksa mencari: sendiri sepi. Tidak patah semangat kami tapi rindu patri.

Beberapa waktu terakhir saya tidak mendeteksi keberadaan bang @rismanrachman di meja-meja warung kopi. Padahal beberapa gambar mengabarkan betapa di meja biasa, orang-orang biasa masih banyak bertumpah canda. Beberapa orang bertanya, beberapa mencoba meyakinkan bahwa intan payong dalam keadaan baik-baik saja. Ada banyak hati dan kepala yang menanti: canda, celoteh dan semangat tak bertepi darimu.

Tapi intan payong telah pulang semalam. Apakah akan kembali menyala ruang ini? Kita menanti. Seperti Ihan setiap waktu menunggu dikirimkan bait-bait puisi. Eh