Manakala Harus Menjelaskan Steemit kepada Umi

Tadi saya cerita ke Umi tentang Steemit. Awal mulanya sebab beliau penasaran karena berulang kali saya dan Oscar membahas itu. Sebab Umi saya cuma tamatan SD tapi update sekali dengan segala perkembangan, menjelaskan perkara platform ini rada susah-susah gampang. Susahnya sebab Umi tidak tahu apa itu Steem atau SBD dan istilah-istilah lain di dalamnya. Gampangnya, beliau cepat paham kalau sudah dijelaskan dengan bahasa ringan.

Untuk memudahkan beliau mengerti, saya mengganti sebutan mata uang crypto tersebut dengan kata “koin dolar”. Upvote diganti dengan sebutan “disukai”, wallet diterjemahkan sebagai “rekening”. Pasar jual disebut sebagai “toko”. Bayangkan dua jam berbicara tentang itu dan tidak boleh sekalipun salah sebut demi Umi tidak bingung. Penuh perjuangan dan kehati-hatian.

Tentu saja Umi tidak berniat menjadi Steemian. Sebab jangankan untuk bermain Steemit, jangankan untuk memegang ponsel pintar, mengoperasikan hp tit-tut saja beliau kelimpungan. Mau tekan speaker malah tertekan tombol Off. Tapi beliau suka penasaran tentang apa saja.

Umi bertanya tentang Steemit hanya sebab mau tahu saja, sebatas menambah pengetahuannya. Konon lagi Umi tahu bahwa saya pernah membeli monitor komputer dengan hasil berkarya di Steemit, disaksikan adik  sepupu saya yang paling dekat dengan Umi, Oji. Ketika dijelaskan, Umi tekun sekali mendengar dan jarang menimpali.

Umi bertanya sudah seberapa banyak koin yang saya kumpulkan di Steemit sejauh ini. Saya menunjukkan Wallet. Dia bertanya berapa harga perkoin. Saya menunjukkan trektracker. Umi serta merta mengalikannya. Dari Steem saya bisa dapat Rp. 741.984; dari SBD saya bisa dapat Rp. 2.548.520;

Umitersenyum dan berkata, “hmm, boleh juga.” Saya menekankan, itu harga sekarang dan saya sudah meminjamkan 30 koin untuk teman yang sedang membutuhkan. Harga pasar sedang turun jauh. Bayangkan jika harganya kembali normal seperti dulu dan teman saya mengembalikan koin yang dipinjam tempo waktu.

Umi bertanya lagi, apakah ada kemungkinan naik kembali? Saya bilang, tidak ada yang mustahil. Maka Umi membuat wanti-wanti, saya dilarang menjual koin sebelum harga kembali tinggi. Harga murah, katanya, adalah peluang untuk menabung. Perbanyak isi rekening selagi murah, nanti pas harga mahal bakal dapat banyak.

Umi saya kemudian bertanya apakah Oscar juga aktif di Steemit. Saya jawab, dia pemalas. Saya rajin. Padahal dia sudah lama berada di platform. Jika isi rekening saya lebih banyak, itu sebab saya setiap hari membuat postingan. Oscar tidak. Umi kemudian menyarankan Oscar dan saya agar terus membuat postingan, lagipula setiap hari kami menggunakan paket internet di ponsel untuk membuka akun lain yang tidak mendatangkan manfaat apa-apa. Rugi pulsa, katanya.

Pikiran saya dengan Umi sama sepakat. Lebih baik buang paket untuk Steemit dibandingkan untuk media sosial lain. Di Steemit, sehari dapat satu Steem, itu berarti kamu sudah menabung 19 ribu rupiah perhari. Sebulan dapat; 19×30=570 ribu rupiah. Cukup untuk biaya beli paket internet bulan depannya. Itu perhitungan dengan harga hari ini. Bayangkan jika harga melambung kembali. Saya yakin harga pasar akan kembali tinggi. Tidak lama lagi. Yakin sekali.