Menyusuri Jalan Kebencian

Katanya, jangan membenci jika tak hendak dibenci. Namun seperti juga cinta, ia tiba sendiri. Tidak seperti cinta, ia tiba selalu dengan alasan. Pada keadaan tertentu kamu mampu menolaknya, tidak pada keadaan lain. Dalam ruang tertentu kamu merasakan ia hinggap pelan-pelan, kadang lekas dan genting.

Hanya orang-orang yang kacau pikirannya yang selalu berhasrat menempuh jalan kebencian. Sementara dalam keadaan normal, kita tidak ingin berada dalam keadaan demikian. Tidak sendiri, tidak pula dengan kawanan. Hati kita semua selalu berkehendak agar selalu dianugerahi kedamaian. Selalu dalam keadaan saling cinta, saling sayang dan terus berbagi. Tidak bermusuhan, tidak pula dibenci atau membenci.

Hanya saja kepala dan hati kita telah ditakdirkan berkehendak. Kita memiliki aturan sendiri, punya keinginan dituruti. Kononlah katanya aturan itu telah dibuat bersama, untuk kepentingan bukan hanya pribadi. Bila itu dilanggar, lambat laun akan tiba kita pada keadaan buruk ini.

Menyusuri jalan kebencian bukan perkara baik, tidak pula bisa dikata benar. Kita selalu harus paham betapa sakitnya tidak disenangi, buruk betul kenyataan ketika kita semakin banyak tidak dicintai. Akan tetapi, jika terdesak dan tak ada pilihan lain, apa mau dikata lagi? Kamu mungkin pemaaf, tapi tidak bisa serta merta lunas dari kenyataan bahwa kamu juga akan sempat dihinggapi rasa kesal hati.

Sebagian orang membuat kepalamu tak tenang, berulang-ulang. Setiap aturan tidak diindahkan, tidak diberi penghargaan. Sementara kau menebar kasih, dia tak hendak membalas sayang. Malah merasuk, menusuk tanpa perasaan. Barangkali beberapa kali kamu tidak akan marah besar, beberapa bagianĀ  tidak membuatmu mendendam, namun jalan bencimu telah dibuka. Pelan-pelan jika jalan itu semakin panjang dan kau dituntut untuk menyusuri itu jalan, agaknya alam telah mengatakan padamu, “silakan, tuan!”