Pengantar Riwayat Asmaraloka

Kamu duduk di halaman rumah singgah, menatap bulan yang sudah lebih sebelah. Beberapa biji bintang, beberapa gumpal awan, beberapa bagian langit menyala, beberapa menyimpan sisa resah. Kamu sedang mencari ilham di langit yang tak sepenuhnya indah? Tidak mutlak, agaknya. Sebagian kepalamu menyasar hal lain-lain. Misal tentang rindu pada kekasihmu yang tenang, misal tentang teman yang lupa jadwal bangun tidur, misal tentang lauk pauk yang dibeli tidak sesuai seleramu, misal tentang segala materi canda dengan beberapa teman baru yang membuatmu masih tertawa setelah menghamburnya beberapa jam lalu.

Kepalamu sedang penuh? Tidak juga. Pada dasarnya kamu bisa memilah-milah setiap yang ada di sana. Kamu bisa fokus mengingat satu hal lalu beralih ke lain hal. Bisa cepat, bisa pelan-pelan. Kamu bisa mengatur kapan satu hal harus kau ingat benar-benar. Juga tentang melupakan sesuatu yang kau kira-kira tidak perlu kau pikirkan. Bisa segera lupa, bisa pelan-pelan dan kau biarkan ia berenang, terngiang-ngiang. Bisa. Kau mampu mengatur isi kepalamu sesuai kebutuhan.

Kau telah mengatur apa yang harus kau pikirkan dan apa yang harus kau lupakan? Tidak juga. Kamu membiarkan segalanya begitu saja. Sekehendaknya belaka. Kamu sedang memerdekakan segalanya. Bahkan yang penting dikenang atau tidak, jika ia hinggap di ingatanmu, kau biarkan.

Dia telah menjadi akal bagimu. Segala tentangnya. Kamu sangat rindu? Tidak juga. Hanya saja memikirkan tentang kekasih pemberian ibu telah membuatmu bahagia. Konon lagi yang diberi itu mampu menyesuaikan diri dengan cara berpikirmu yang sudah kacau sejak lama.

Kacaukah juga pikirannya? Tidak juga. Dia hanya menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan. Dia tahu bagaimana kepalamu menuntut diperlakukan. Barangkali ia banyak belajar atau memang demikianlah kehendakmu atas seorang yang kelak menjadi teman sepanjang kehidupan.

Kamu harus menulis tentangnya. Tentang cerita yang tak dipercaya banyak orang yang pernah mengenalmu sebagai pengelana. Baiklah, tidak sekarang. Nanti saja. Kamu tahu kapan masa baik dan waktu yang tepat mencatat riwayat asmaraloka. Anggaplah kali ini kamu sedang menulis catatan pembuka.