Kepada Teman Sepenyakitan, Ira

 

Kemarin ulang tahunmu dan aku tidak mengucapkan selamat, kamu tidak marah, kan? Aku yakin tidak. Kamu temanku yang baik. Aku tahu, kamu sangat paham dengan segala keadaan yang sedang kujalani hari ini. Segala yang kudapatkan telah membuatku sibuk, bahkan hampir lupa tanggal-tanggal. Ini semua adalah doamu yang terkabul, agar hidup kita lunas dari segala kemelaratan. Tapi percayalah, aku tidak lupa. Aku masih menyimpan surat lama. Ucapan setahun silam yang masih patut kau baca, agar tak lupa.

Kamu tidak boleh melupakan bagaimana kita saling mendiamkan lapar dalam canda sepanjang hari: seolah-olah kenyataan sedang berpihak pada perutmu dan perutku. Dan tentu saja, malam harinya kita akan meratapi hidup yang terlalu tega melibas-libas lambung kita, menahan air mata muncrat di kamar masing-masing yang tak lama lagi akan kehabisan jadwal sewa.

Kamu harus selalu ingat cara-cara kita menyelamatkan diri dari amuk harapan yang selalu meminta diri agar segera khatam. Tidak pernah bertekuk pada kata pasrah. Selalu ada cara berdusta: memanfaatkan siapa saja untuk menjaga api asa tetap menyala. Sesekali kita saling jujur lalu menertawakan kejujuran itu seperti teruna patah hati yang menertawakan dirinya yang ditinggal pergi.

Di hadapan kampus kita: tempat kau dan aku mengumpulkan suhuf-suhuf berserakan ke simpul, menjadi Kitab Ingatan Luka Masa Lalu, semua bersaksi, bahwa dua martir akhirnya berhasil lolos dari kemungkinan besar mati. Lolos sebagai pemberani. Kita lawan segalanya. Kita saling berkirim doa. Pada hari ini, kamu telah menancapkan benderamu di sudut sana. Aku menancapkan benderaku di seluruh kota.

Orang-orang menyerah selalu payah dan segera enyah. Mereka pulang menyelamatkan diri ke pangkuan tanah pertiwi. Kita tidak. Tidak ada kata mengalah di Kitab Ingatan Luka Masa Lalu yang telah kita sampul baik-baik tempo hari.  Untuk menang, kau berjalan ke matari hidup, aku ke matari mati. Sesekali kita bersua di badan kota tempat matari tegak berdiri. Di sana kita tertawakan masa silam yang tak mampu menaklukkanmu dan aku. Mengumpat keadaan buruk waktu lalu. Dan sekarang, setiap bertemu aku selalu ingin mendengar cerita baru yang kau tulis kemarin itu. Dan kau membanggakan buku yang kutulis sendiri setelah di sampingku tak ada kamu.

Selamat ulang tahun, kawan sepenyakitan pada masa silam. Kau tidak boleh berhenti berjuang. Berbahagialah, Ira Jeumpa Cahyoniekluet. Setelah menyebut namamu, aku kesulitan mencari kosa kata manis sebagai doa agar ucapan ini ditutup dengan lembut.