Tuhanlah Pemilik Karma

Begitulah, jika Tuhan mengucap “Kun” untukmu sekuntum mekar mawar, tak ‘kan ia berpindah ke lain tangan. Jangan risau, resah jangan. Bila telah ditakdirkan untukmu, untukmulah ia akan.

Barangkali kamu harus menunggu, sabar. Sesekali bahkan tak harus melintas masa. Tuhan memberimu kejutan. Begitulah, Tuhan selalu punya cara memberi. Bahkan dari ruang-ruang yang tak ternyana olehmu selama ini.

Demikian pula bila Tuhan mengucap, “Kun” mawarmu lepas di kuntum. Maka lepaslah ia. Tidak bisa ditahan meski kau kerahkan segala daya. Segala kuasa manusiamu. Kita memiliki cara, upaya, tapi Tuhanlah pemilik segala kuasa. Tuhan berkuasa atas pemberian dan pembalasan. Karma? Ya, orang-orang menyebutnya demikian.

Mereka yang berbicara karma semacam menabur doa pembalasan atas segala kecurangan yang kau lakukan. Kecurangan? Ya, menurut mereka. Dan orang-orang dekatnya yang menerima kabar darinya.

Misal begini. Kau sakiti hati seseorang, orang itu menceritakan kepada temannya. Mereka bersepakat bahwa kelak kau akan mendapatkan karma. Mereka tidak tahu persis apa yang telah terjadi sebenarnya. Bisa jadi kau tidak sedang menyakiti, melainkan membalas kesakitan. Bisa jadi kau menginginkan yang lebih baik kemudian.

Percayalah, yang manusia katakan tentang karma itu tak mutlak benar. Perkara pembalasan, iya tentu saja akan ada. Dengan berbagai cara-Nya. Tidak dari pintu serupa, mungkin tiba dari pintu lainnya.

Tapi Dzat Mahadaya selalu membuka ribuan pintu masuk untuk kembali kepada peluk kebaikan. Jangan risau. Masukilah pintu-pintu yang selalu terbuka itu. Kelak, Tuhan dengan cara-Nya akan menyapu segala nistamu pada masa silam. Menyimpan rapat di bawah tilam kebaikan.