Nanti Sekarang Akan Menjadi Masa Lalu

Pada beberapa kesempatan dalam keadaan sunyi diam, sendiri atau tengah malam jelang benam, saya suka merenung. Memikirkan banyak hal dan bertanya-tanya. Terlalu banyak pertanyaan yang membuat saya harus berpikir berulang-ulang jawabannya. Terlalu banyak hasil pikir yang kemudian membuat saya menyadari ada beberapa bagian hidup dan cara gerak yang masih harus terus dibenahi, meski beberapa sudah semakin baik terasa.

Saya suka memandang masa silam untuk belajar, merasakan hari ini untuk gelora, dan mereka-reka masa depan sebagai upaya bersiap-siap dengan segala.

Kadangkala saya berpikir tidak ada yang benar-benar sekarang. Hidup hanya memiliki dua waktu saja, masa lalu dan masa depan. Waktu tidak pernah stagnan. Detik ke detik terus berloncatan. Baiklah, kalau pun harus memaksa, agaknya yang disebut “sekarang” durasinya hanya satu detik saja. Sebab jika sudah melewati detik, itu sudah menjadi tadi. Masa lalu.

Di manakah kita hidup? Masa depan atau masa lalu? Saya kesulitan menjawab ini. Sebab rasa-rasanya tidak mungkin kita hidup pada masa sekarang. Sementara itu, masa depan adalah sesuatu yang belum pasti, masa lalu sudah habis seiring detik berganti.

Baiklah, kita sepakati bahwa “sekarang” tidak dinilai detik perdetik. Sebutlah ia lebih luas, perjam atau perhari. Kita hidup dalam jam ini, hari ini, artinya kita sedang hidup dalam waktu sekarang. Sudah, lupakan pada kemungkinan takdir yang bisa jadi kapan saja membuat “sekarang” kita selesai. Anggaplah sekarang itu lebih luas dan panjang.

Meskipun demikian diperpanjang, pada saatnya kelak, sekarang akan menjadi masa silam. Kita akan menjadi kenangan. Semua yang kita lakukan hari ini hanya akan menjadi cerita. Beberapa berhasil direkam sebagai tanda, beberapa bias begitu saja. Dan saat kita tiba pada masa “nanti” tentu saja yang tersisa pada kita dua belaka; bahagia atau menyesali sudah salah mempergunakan masa.

Pada beberapa kesempatan dalam keadaan sunyi diam atau tengah malam jelang benam, saya suka merenung. Berpikir apa saja yang sudah saya perbuat, yang berguna bagi banyak orang. Tanpa pamrih, tanpa tujuan-tujuan lain. Dalam keadaan itu, saya merasa sangat kerdil di hadapan hamparan nikmat yang telah dilimpahkan Dzat yang Maha Baik.