May Bulan Agustus

Sudah lama aku tidak membaca puisi, tidak juga mencari bahkan meluputkan diri begitu saja bila ia lintas di depan mata. Begitu juga prosa. Seleraku semakin payah, kawan. Geloraku mencintainya dikikis keadaan. Bacaanku adalah karya-karya lama dan sudah lama pula tidak jadi bacaan. Satu-satunya yang menyelamatkan jumlah kata dan tata cara merangkainya adalah lirik lagu luar yang dengan berbagai keterbatasan kucoba terjemahkan.

Bahasaku semakin buruk, kau merasa? Kegesitan memadupadankan ia parah terpuruk, rasanya. Persis seperti seorang teruna yang sudah terbiasa sendiri sehingga lupa cara mencintai, alpa rasa dicintai. Sehingga jadilah cinta baginya sebagai sesuatu yang jauh. Sangat tidak berpengaruh.

Kami meloncat bulan ke bulan. Menghitung angka-angka. Kami menikmati setiap jengkal keadaan. Kami lupa banyak sekali lintasan, tapi pada saatnya kami akan bertanya satu hal. Mengapa ada May yang tersesat ke Agustus? Bagaimana bisa?

Nama-nama. Duh, apalah ini? Terkadang kita memang terpikirkan sesuatu yang tidak mesti terlalu dibawa pikir. Seperti aku yang bertanya tentangmu. Tentang bukankah kamu mestinya tiba tiga bulan lalu?

Setiap May melintasi Agustus, aku terlempar pada dua penyesalan: menyesal telah fakir kata, menyesal telah pergi entah sebab apa. Aku ingin tiba kembali pada sekapal dua kapal yang singgah di muara. Masihkah kau ingat semua?

Selamat Agustus, bulan lima yang tersesat tanggal tiba. Baiklah untukmu segala, kawanku. Pada masanya kelak, kita akan menjadi kata. Masa menguap menjadi cerita. Sebagian akan dikenang di aksara. Sebagian lagi hilang sebab kuasa lupa.