Bisa Jadi Ada yang Lebih Buruk

Apakah kamu pernah tersudut dalam keadaan buruk dan merasa sangat memilukan? Aku pernah. Itu terjadi berulang kali dalam hidupku. Aku kehilangan keseimbangan baik pikiran maupun tenaga. Dalam pada itu, tulang-tulang di balik dagingku seperti menjelma nadi semua. Tidak bekerja seperti tugasnya. Aku akan tidur di lantai tanpa alas, memandang langit atau mendekap bumi. Segala yang di akal, berhenti.

Dalam keadaan terpuruk, aku butuh sendiri. Sunyi dan tidak mendengar riuh bahkan suara diri. Kecuali denyut nadi, hembus napas, dan detak jantung pribadi. Jika itu tidak bisa, aku akan ke rimba atau tepi laut yang landai dekat pantai. Mendengar suara air dihempas angin, mendengar deru bayu dan keletip dahan kering, mengubur sebanyak-banyaknya ingin.

Jika segalanya terasa semakin buruk, ajaib, aku malah punya semangat. Bahwa bila terus dituruti, didiamkan dan tak dilawan, ini bisa menjadi semakin celaka. Aku serta merta tahu, ini hanya perkara bagaimana mengajak dan mengajar jiwa dan badan. Bahwa bisa jadi ini tidak buruk, ada yang lebih buruk lagi nun di luar. Atau untukku kemudian. Hanya orang-orang berjiwa kalah yang tunduk pada amuk kehancuran. Sementara yang berjiwa sultan, hanya membutuhkan istirahat sebentar sebatas mengumpulkan semangat dan kekuatan.

Suatu waktu dalam keadaan tenang aku duduk, menatap kembali segala masa buruk. Pada saat itu aku hanya bisa menertawakan diriku yang lalu. Mengapa bisa hampir remuk? Mengapa tidak membalas amuk? Mengapa tidak serta merta sadar bahwa di dunia ini Tuhan tidak memberikan kita segala yang buruk jika bukan sebab kita yang bentuk atau sebab kita saja yang mampu menerima segala teruk.