Sehalnya Baju-Baju Kesukaan

Sehalnya baju-baju kesukaan. Kau akan jarang meletakkannya di lemari bersama baju-baju lain. Meski pada dasarnya setiap baju memiliki takdir tiba yang sama: disukai, dibeli, dipakai dengan senang hati. Tapi tetap saja ada baju-baju kesukaan yang kau agak-agak lebih nyaman untuk kau kenakan. Baju-baju kesukaan selalu tak punya cukup waktu istirahat. Takdirnya kadang dianggap buruk, harus dikenakan sejak lepas di tali jemuran hingga tiba pada masa kotor yang mengundang bau asam.

Sehalnya baju-baju kesukaan. Kau yang dicintai dengan tulus hati akan sulit dilepaskan. Mendengar kabarmu akan pergi saja membuat orang-orang yang menyayangimu akan kesulitan memejamkan mata bermalam-malam. Dan aku, tentu saja lebih parah. Sebagai yang masih sangat takzim, merasakan gemetar setiap ingat akan ditinggalkan. Berulang kali harus membangun keyakinan diri bahwa segala aral tidak akan mampu menghadang langkah pejuang tangguh, tapi hati belum bisa dibuat teduh. Masih gemuruh. Masih gaduh.

Sehalnya baju-baju kesukaan. Sesuka apa pun kau padanya tetap saja dengannya kau akan mengalami perpisahan. Mau tak mau kau harus bersiap untuk ditinggalkan atau meninggalkan. Tapi selalu saja buruk ketika kau mengetahui dengan terang waktu perpisahan itu. Kau akan membenci almanak, menyumpahi tanggal yang lunas setiap hari. Kau tak akan bisa dengan mudah menenangkan hati.

Kemana pun pergi, ingatlah, yang kau tinggalkan di sini adalah seorang martir. Pejuang paling tangguh yang untuk berperang tidak berulang-ulang berpikir.