Masri Sebagai Teman, Masri Sebagai Akal

Laki-laki itu jauh terpaut baya dariku. Di awal sua, kami hanya berbicara beberapa potong dan sama sekali tidak menyisakan kesan apa pun. Sementara yang membawa kami pada kilas kenal itu telah jauh, kami kembali bertemu. Dengannya kembali bersekutu.

Namanya @masripribumi. Seorang berjiwa muda yang selalu mencari. Menyusur segala jalan demi mendapatkan celah mengabdi. Sementara kami selalu jauh dan saya membaca segala yang ia lakukan nun di sudut kampung kutiba. Dia berguna. Telah ia buka suhuf-suhuf baru, ditulis dengan pena kurang dawat. Catatan-catatan yang hanya terbaca oleh orang-orang yang sudah lebih dahulu mahfum ayat.

Dia pengabdi. Pemberi segala upaya demi baik timpang sendi. Dia tenun kain-kain harapan, dilingkarkan ke pinggang remaja-remaja yang ia kehendaki melakukan perubahan. Di sisi gerak, @masripribumi adalah teman. Di sudut pikir, ia adalah akal.

Berulang kali kami berjumpa, menyusun beberapa ihwal yang kadang awalnya tak ternyana. Kami bercerita. Beberapa kali menghantam godam di dinding baja. Pintu-pintu terkatub, terbuka.

@masripribumi sebagai teman adalah semangat yang diharamkan padam dari nyala di tungku perapian. Ia sebagai akal adalah jalar yang terus memanjang, menyusur setiap sudut tanah, batang ke dahan, dahan ke ranting, ranting ke pucuk, dan segala celah diamuk masuk. Masuk dan masyuk.

Selamat bertambah usia, teman. Semoga semakin nakal.