Meusyen Raya: Rindu Perempuan Selalu Lebih Menyiksa

Lon dong teuingat, lon duk teupike
Ho keuh bohate ka hek lon mita
Gundah jiteuka ie mata ile
Meusyen lon raya
•••
(Meusyen Raya – Miftah Arif: Alb. Saban Sama. Solomon Kingdom ent. 2018)

Dari judulnya saja (bagi orang Aceh yang tahu bahasa) sudah tertebak bahwa lagu “Meusyen Raya” menyampaikan tentang rindu, tentu saja. Secara bebas, frasa “meusyen raya” bisa diartikan sebagai “kangen banget” atau “sangat rindu” atau “rindu yang luar biasa”. Sebab kata “meusyen” berarti rindu (yang sudah tak main-main) dan kata “raya” berarti besar atau berjumlah banyak atau sangat. Maka demikianlah, saudara-saudara, lagu ini bercerita tentang rindu yang sudah tahap luar biasa.

Apakah sama rindu laki-laki dengan rindu yang hinggap pada wanita? Agaknya beda. Laki-laki seberapa pun besar cintanya, ia punya hal lain yang lebih (dan mestinya) harus diutamakan, yaitu tanggung jawab. Kita sedang berbicara tentang pasangan yang sudah menikah (sebab di lagu ini kami berbicara tentang pasangan yang sudah berumahtangga). Walaupun banyak juga pemuda yang belum menikah sadar bahwa tanggung jawabnya sebagai lelaki bukan hanya mencintai, namun juga bekerja keras demi masa depan yang baik.

Perempuan meski pekerja keras tetap di hatinya memiliki ruang sendu dimana cinta dan rindu melesat ke cakrawala biru. Rindu perempuan lebih besar. Keinginan untuk berjumpa pada kaum hawa lebih menyiksa. Sementara lelaki, agaknya hanya di film-film saja ia sengsara sebab rindu dan harap jumpa. Well, kecuali sudah berpisah sangat lama. Itu pun ada dua kemungkinan: meusyen raya atau sama sekali lupa.

Karena konon perempuan mencintai dengan hati, jiwa dan perasaannya, sementara lelaki menyampaikan cinta dengan upaya-upaya. Maka demikianlah, meski rindu di hati lelaki sudah samudera, yang kau temukan adalah setelaga saja ia tunjukkan di perasaannya, selebihnya dengan tenaga. Sementara perempuan bisa jadi sebaliknya.

Sementara itu laki-laki Apache13 selalu menganggap bahwa rindu bukanlah perkara yang terlalu menyiksa. Benar, terkadang kami merasa teringat, ingin berjumpa, tapi hasrat itu tidaklah sebesar seorang teruna mabuk asmara. Konon lagi bila rindu itu harus bertarung dengan kerja. Kalah telak ia.

Sesekali kami duduk bersama, di sela kerja, membicarakan banyak perkara di luar musik dan panggung. Kadang hingga menyangkut cinta. Gelora anak muda, tentang gadis-gadis yang tegar menjalani kenyataan bahwa mencintai kami adalah bentuk menyerahkan diri kepada sedikit ruang jumpa. Sering jauh dan jarang mendapatkan kabar serta raya rayu cinta.

Maka kami tulis lagu ini. Maujud usaha kami meminta pemakluman pada perempuan-perempuan kami bahwa cara kami mencintai adalah dengan bekerja keras agar yang kami cintai kelak mendapatkan kehidupan yang pantas. Di sisi lain kami sadar, betapa perempuan-perempuan kami padahal tidak melulu ikhlas. Suara mereka diwakilkan oleh Miftah Arif dengan baik, penuh penghayatan dan pemberontakan perempuan yang khas.