Janji Alam: Semesta Tidak Pernah Ingkar

Peutuwo keu langet manyang
Tuwo angen awan, saba sayang
Ayeum mata bek le keunang
Uroe talo timang, piyoh sayang

•••
(Janji Alam – Miftah Arif: Alb. Saban Sama. Solomon Kingdom ent. 2018)

Lirik lagu “Janji Alam” ditulis dalam pengaruh limpah kerinduan. Maka ia berbicara tentang penghiburan diri seorang penanti atas atas siksa ingin bersua, harap jumpa. Sementara kamu cukup sadar pada ketidakmampuan yang kau miliki, rindu memintamu untuk menjelangnya setiap hari. Mestinya ia dijelang? Atau kamu bertekuk di bawah kuasa sadar bahwa diri tidak cukup punya kekuatan?

Begitulah. Janji Alam adalah diskusi alot di hati antara keinginan yang hebat dengan pesimisme diri. Dilantunkan oleh Miftah Arif dengan baik dan apik. Dia telah menjiwai seluruh bagian lagu sesuai harapan untai lirik dan ide lagu tersebut. Miftah agaknya sudah belajar banyak untuk menyanyikan lagu Aceh dari sebelumnya ia menyanyikan banyak lagu Arab.

Janji Alam dan suara Miftah Arif telah menyatu, masuk ke relung dengar dan masyuk di sana. Bahwa rindu adalah siksa, bahwa ketidak-yakinan diri akan membuat yang hendak kau dapatkan tak terdapatkan hingga kapan pun jua. Dan bahwa hanya diri sendiri yang mampu menundukkan hasrat pribadi atau menyalakan semangat hingga tercapai segala ingin.

Semesta telah menulis demikian sejak awal dan ia tak pernah ingkar. Sampai kapan pun tidak akan ada rindu yang membahagiakan dan nikmat, tidak ada juga pesimisme yang mampu mengantarkan engkau ke gerbang harap. Selalu saja, kamu harus memiliki keyakinan agar yang kau inginkan tercapai kemudian.

Nikmatilah Janji Alam sebagai seorang perindu yang merayu agar hatinya tak terlalu menggebu. Temukan setiap jengkal penguatan jiwa, hibur hasrat yang sedang meminta. Bertekuk di bawah janji semesta. Belajar padanya. Bahwa rindu dan keyakinan harus tumbuh sekelindan. Agar kau tidak merasakan siksa berkepanjangan.