Yang T’lah Raib, Datangkah Lagi?

Masihkah kamu mengingat dengan baik bagaimana gelora di beberapa rembang senja suatu kala? Kita berjumpa, kemudian mengatur masa sua selanjutnya, lalu kembali berjumpa, jumpa lagi, jumpa lagi. Demikianlah terjadi berulang-ulang kali. Seolah-olah rindu tak pernah lama bisa berkuasa di hati masing kita. Kau jika rindu padaku serta merta mengajak temu, lalu serta merta kita bertemu. Aku bila ingat kamu segera kau kutuju, tertuju. Begitulah, suatu masa lalu, segalanya penuh birahi. Tak terkendali.

Masihkah kamu mengingat dengan baik bagaimana meja-meja penuh dengan pesanan dan kita berebutan ingin membayar? Ah, apalah artinya sebotol bir untuk sekali jamuan? Pasar sedang berpihak. Kita tidak pernah merasa tersedak melihat jumlah angka yang disodorkan pelayan. Tidak pernah kelimpungan, tidak hitung-hitungan. Kita telah lunas dari pelit sebab dompet-dompet terisi dari tiap tekan ujung jari di maya: di langit.

Mestinya semangat itu masih ada. Di ruang-ruang canda, kita tidak boleh lintang pukang, lanang tak bersisa. Mestinya kita tetap menjaga tawa dan sapa.

Hei, apa kabar kalian, saudara yang dieratkan oleh ruang sukacita ini? Masih ingat bagaimana kita bisa suka-suka melakukan perjalanan kemana hendak hati? Pertemuan-pertemuan yang padat, sua yang tak peduli tenggat, masihkah kita ingini? Kapan kembali berkumpul ramai-ramai di satu tempat, membicarakan perkara-perkara sesederhana tatacara mendapatkan kurasi? Bukankah setiap pertemuan akan selalu asyik untuk dijadikan bahan mengisi platform ini?

Hei, birahi kita tak boleh raib, tak boleh hilang meski pasar sedang sangat sulit. Canda kita tak boleh aus meski harga-harga membuat kita seperti seorang pengelana haus. Ayolah, yang hilang dikembalikan. Yang pergi dibawa pulang. Yang indah dikenang, lalu dibangun pasang. Dibuat seindah dulu lagi: berulang-ulang.