Well, Yeaah!

Huuufftt…!!
Kamu menghembuskan napas kuat-kuat dari mulut, lalu menghidu kembali dalam-dalam udara baru. Lalu kau rebahkan badanmu di sofa ruang tamu yang setengah lusuh itu. Kau luruskan selurus mungkin badan hingga berulangkali terdengar suara sendi-sendi gemerutuk macam lepas dari aut. Kamu mengambil masa istirahat lebih cepat agar cukup tenaga melakukan lain kerja besok lusa. Tapi kepelamu tak bisa diam. Dia terus menyeruak cakrawala, mengolah akal.

Kamu telah bekerja sangat keras sebelumnya. Bahkan hingga baru saja. Tubuhmu keletihan, badanmu butuh tilam. Udara panas kamar telah enyah sebelum kau rebahan oleh kipas angin tua warisan perjalanan. Kepalamu. Sesuatu yang ada di sana mengapa tak mampu kau ajak berdamai? Sesekali bisakah ia patuh pada kehendak tulang? Dan semesta khayal mengapa terus menerus membuka pintu jendela, mengajakmu masuk ke sana?

Kamu harus membaca doa tidur berulang kali. Segera. Tidak perlu lagi basa basi. Baca sampai matamu terpejam lalu bangun segar esok pagi. Barulah kemudian kau boleh bekerja lagi. Kamu seorang pelari tangguh dan pengatur irama permainan. Berlari terlalu banyak sehingga dihentikan peluit tanda sudah kelewatan garis serang bukan melulu sebaik-baik pilihan. Sesekali bujuklah hatimu yang gelora itu. Ajak ia untuk lebih tenang melintasi garis waktu.

Putarlah musik-musik sendu yang bisa merayu matamu untuk tidak lagi menyala. Jangan coba-coba bangkit dari tempat kau sedang meleha. Sekali bangun, kau akan kesulitan kembali tidur. Ayolah, sedikit jinak saja. Kamu harus berhenti menguras tenaga. Sejenak belaka. Apa susahnya?

 

Tidak. Laki-laki diciptakan sebagai pekerja tidak berarti ia harus gila mengerahkan sehabis-habis daya. Harus dijaga juga. Usaha tekun bukan berarti tak pernah kendur. Sesekali larilah dengan langkah-langkah kecil, dengan tenang. Bermain-main agak lama di pusar lapangan. Kawal permainan. Atur ketukan. Pelan-pelan. Tenang.

Tidurlah. Malam sudah hampir di tengah. Bawa badanmu sejenak menyatu dengan peluk rebah. Didekap tilam, dibelai bantal. Mimpikan segala keindahan. Cup cup cup…!

Hei, tunggu dulu. Di mana kamu? Oh Tuhan, mengapa kau begitu bengal?