Patuh di Kantor Pribadi

Sampai jumpa lagi, Steemian. Kita bekerja dan mari berbicara hal-hal ringan menyangkut pekerjaan. Sebatas bahasan penelan kopi jelang siang. Masa istirah? Ya, bagi pegawai kantoran. Namun bagi kita yang bekerja pada diri sendiri, masa istirah tidak sekaku jam di dinding. Bebas kapan mau asal bisa tetap menyelesaikan pekerjaan sesuai kehendak waktu.

Tidak ada kecuali. Aturan-aturan yang sudah dibuat harus tetap dipatuhi meskipun yang membuat aturan tersebut adalah kelompok sendiri, meski yang bertanda-tangan kuat di sana adalah tanda tangan kita pribadi. Bisa saja kamu mengungkung aturan-aturan tersebut sesuka hati. Namun bagaimana mungkin segalanya bisa menjadi lebih baik jika kamu tidak bisa membuatnya seteratur mungkin, sebaik mungkin dan kamu bisa menjalankan segalanya dengan bijak.

Ada dua jenis pekerja ditinjau dari ruang kegiatannya. Pertama, yang bekerja pada orang lain dan yang kedua yaitu orang yang membangun ruang perkerjaan pribadi. Beberapa kawan saya setelah selesai kuliah langsung buka usaha. Alasan mereka pada umumnya sama, ketika bekerja secara mandiri mereka bisa membuat pola kerja, mengatr segala sesuai keinginan pribadi. Katanya itu lebih membuat mereka merdeka, bisa membuat mereka suka-suka kapan mau bekerja atau berleha. Sekilas benar, tentu saja, namun tidak pada kilasan lainnya.

Bekerja pada diri sendiri itu tidak semata-mata mudah. Kenyataannya kalian dituntut untuk lebih disiplin tinimbang bekerja pada orang lain. Kita harus meloncat lebih gesit di arena agar usaha yang dibangun terus berjalan dan membesar suatu masa. Tanggung jawabnya lebih besar. Jika ketika bekerja pada orang lain tugas kita hanya sebatas menyelesaikan pekerjaan yang sudah dibebankan, bekerja pada diri sendiri membuat kita harus berpikir bagaimana pekerjaan datang dan bertahan ada lalu membuat usaha tersebut lebih raksasa. Mengatur konsep kerja itu tidak ringan, saudara-saudara. Kamu harus jeli membaca keadaan dan selera klien kalian di luar sana.

Barangkali semua kita senang menjadi atasan, hal itu menjadi salah satu motivasi kita bekerja pada diri sendiri, tidak di bawah kuasa lain perusahaan dan lain atasan. Dengan posisi tersebut kita kira berarti kita bisa bebas membuat aturan dan kadangkala merasa bebas pula mengangkanginya. Nyatanya tidak mutlak demikian. Ketika menjadi atasan, kamu harus berpikir berkali-kali lebih kuat dari bawahan, kamu harus tekun membaca pasar, harus detail mengatur tatacara bergerak dan lebih rajin menyatroni ide-ide segar. Belum lagi kemudian kamu harus berpikir bagaimana memberikan hak atas kewajiban yang telah dilakukan para pekerja atau bawahanmu andai punya.

Bahwa aturan-aturan di ruang kerja yang kamu bangun telah dibuat, kamulah yang menjadi contoh utama atas kepatuhan aturan tersebut. Jika kamu atasan sesuka hati merusak aturan, maka bawahanmu juga akan. Kamu harus membentuk dan mencontohkan model bekerja pada setiap bawahan. Kamu harus siap dua kali lebih lelah, yaitu lelah berpikir ide baru serta lelah menjalankan usaha itu. Bagaimana pun, menjadi pemilik usaha sama hal-nya menjadi buruh utama dimana kita harus siap bekerja tanpa jeda.

Maka demikianlah. Selalu ada nilai kurang dan lebih. Dan jika dipikir-pikir, atas nama pekerjaan meski pada orang atau membangun ruang sendiri, aturan utamanya tetap sama: tekun dan bertanggung jawab. Jika tidak memiliki keduanya, sama saja. Di manapun bekerja kamu tidak akan berkembang terlalu jauh. Sekali dua kamu mungkin berhasil dan merasa senang bebas merdeka. Namun untuk membuat ruang bekerjamu bertahan lama, kita tidak bisa semena-mena. Aturan harus dipatuhi, usaha harus rajin dan jeli.