Zu dan Cerita Bunda Tentang Nenek Moyang Nyamuk

Zu, masih ingat dongeng Bunda tentang nenek moyang nyamuk? Sejujurnya aku lebih mengingat senyum gelimu malam itu. Sudah, lupakan tentang ingatanku. Sekarang jawablah, apakah kau masih mengingat dongeng Bunda tentang moyang nyamuk? Yang pada akhirnya kita sadari ia ingin mengatakan bahwa setiap keburukan akan membuatmu celaka meski pada awalnya kau perkasa. Begitulah. Mari kita ingat lagi cerita Bunda.

Konon, Bunda mulai berkata, badan nenek moyang nyamuk dulu seukuran kerbau, bentuknya ya sama saja seperti nyamuk sekarang ini. Mereka memiliki kerajaan-kerajaan. Dan kalau pasukan kerajaan mereka terbang mencari darah, maka segala makhluk segera sembunyi. Ketakutan hingga menggigil, lintang pukang berlari. Sebab para pasukan pemburu darah itu, katanya tidak akan pulang sebelum ada mangsanya yang mati. Jahat sekali.

Kita bertanya apakah nyamuk-nyamuk itu tidak mengejar mangsanya yang berlari? Tidakkah mereka tahu di mana mangsanya sembunyi? Kata Bunda, itulah beda nenek moyang nyamuk dengan cucu-cicitnya. Berbadan besar, memang, tapi indera penciuman mereka tidak bisa digunakan dengan baik. Maka segala rencana kerap gagal hampa.

Kamu bertanya sebabnya apa. Kata Bunda, hidungnya telah dipotong oleh nenek moyangmu, Zu, dalam satu tarung laga. Nenek moyangmu seorang pendekar adikuasa yang memiliki pedang sakti yang ditempa istrinya sendiri.

Kamu bertanya, mengapa nenek moyangmu yang pendekar itu bisa marah besar? Kata Bunda, kemarahannya dimulai ketika muncul sekelompok nyamuk mabuk di sekitaran mereka tinggal. Nyamuk-nyamuk mabuk itu suka berteriak-teriak tidak karuan saban hari saban malam.

Dan suatu kali, setelah pesta tuak di pesisir, para nyamuk mabuk itu terbang hura-hura. Begitu tiba di angkasa tempat nenek moyangmu tinggal, salah satu dari nyamuk itu sempoyongan, lalu jatuh. Dalam keadaan mabuk, dia lupa menggunakan sayapnya. Maka bayangkan seekor nyamuk seukuran kerbau jatuh menimpa rumah kayu nenek moyangmu. Hancur! Seperti hati Bang Ali mendapatkan berita akan kawin Hayati.

Zu, kamu tertawa seperti sedang digelitik. Aku nganga di hadapan Bunda dan masih menunggu ia melanjutkan ceritanya. Kamu menyuruh Bunda tidur dan melemparkan sarung dan mendorongku ke kamar tidur. Di sana kita rebahkan badan di kasur sama. Kamu melanjutkan tawa. Aku memerhatikannya hingga lena.

Bertahun-tahun sudah, sebentar aku dilanda bingung. Apakah aku sedang rindu tawamu atau cerita nyamuk raksasa itu. Tapi percayalah, aku tidak merindukanmu. Jika pun ingat, tidak sampai rindu. Kupastikan itu. Tapi tentang tawamu malam itu, aku terkesan. Sebatas terkesan. Tidak sampai kepayang.

Zu, bagaimana kalau nyamuk-nyamuk yang dipotong hidungnya oleh nenek moyangmu ternyata belum punah? Misal malam ini mereka datang lagi, lalu balas dendam. Aku tidak akan bertanggung jawab. Akan kutunjukkan kamu. Kutunjukkan tanpa kasih welas. Sebab kepadamu mereka patut menuntut balas.