Keraguan demi Keraguan Menjelang Pernikahan

“Sempat ragu, bang?” tanya @silvira lalu diteguknya teh hangat yang ia pesan pada pelayan Tootor Coffee, Takengon untuk mengurangi serangan suhu hingga titik 18° Celcius. Gadis itu mengenakan jaket merah tebal, agaknya darahnya masih Aceh Besar meskipun sudah sekian waktu bermain-main di dataran tinggi itu.

Saya mengangguk. “Pasti ada ragu. Bahkan keraguan itu datang berulang-ulang. Berbagai bentuk datangnya. Tapi tetap harus teguh hati agar segala yang direncanakan bisa tercapai dengan baik.”

Pembicaraan kami hingga menyusur pernikahan bermula dari kabar akan adanya satu lagi Steemian yang akan melunaskan masa lajang. Kalian tahu siapa. Kita hanya boleh mendoakan semoga segala yang teman kita rencanakan itu dipermudah oleh Allah. Jauh dari keraguan yang raksasa.

Kami tidak berbicara terlalu banyak tentang rencana si teman, melainkan tentang keraguan-keraguan menjelang pernikahan. Agak-agaknya @silvira sudah menyusun rencana untuk berumah tangga. Jika benar dugaan saya, beribu-ribu doa baik saya kirimkan untuknya. Jika tidak, semoga ia segera menyusun rencana. Seorang teman saya yang sudah lama menikah pernah memberikan saya semangat. Katanya, menikah itu 10% enak, selebihnya enak banget. Hihihi

Saya masih baru, belum tepat untuk menyimpulkan pernikahan itu enak atau enak banget. Sebab yang baru-baru itu memang terasa segalanya indah. Apa saja indah. Belum ada cobaan berarti. Tapi jika pun kelak ada cobaan, saya telah punya satu pegangan dari pepatah Melayu yang disampaikan dalam lagu P. Ramlee: sedangkan lidah lagi tergigit, apa pula suami istri. Cukup cemeti.

Apakah dari awal hingga ke pelaminan tidak ada yang membuat saya tergoyahkan? Ada. Banyak. Banyak sekali. Keraguan tentu saja yang paling sering menghampiri. Saya bertunangan dalam keadaan kekurangan materi. Meski sudah konser kemana-mana dengan Apache13, di rekening saat itu uang hanya transit. Saya ragu akankah kelak saya mampu melunasi mahar yang telah dijanjikan, akankah kelak istri saya mampu saya nafkahkan? Belum lagi saat itu muncul kenyataan besar pasak daripada tiang. Saya tidak bisa menghemat. Keraguan itu makin besar terasa.

Untungnya saya punya beberapa ruang menambah pendapatan lain selain di band, saat itu. Mengajar menulis dan membaca puisi di sekolah, menjual gambar desain di Venco Desain, mengisi kelas motivasi, dan berbagai upaya lain. Keraguan tersebut hilang sesedikit dari batin.

Lalu saya terasa laris manis. Ada saja dedek-dedek gemes yang datang menawarkan pesona, mengirim pesan-pesan romantis. Tapi untuk ini saya sudah kebal. Sempat ragu sekali dua ketika yang tiba itu seolah-olah benar-benar sesuai kriteria. Mantan yang kembali menitipkan pesan. Gadis-gadis cantik yang hampir sesempurna harapan. Namun keraguan melalui perkara ini hanya bertahan dalam durasi tak sampai sejam. Seorang pemabuk berat yang sudah memutuskan taubat tidak akan tergoda lagi dengan secangkir tuak. Sudah pernah. Sudah tidak lagi menggiurkan.

Keraguan lain adalah ketika menemukan satu persatu kenyataan sifat dan sikap pasangan yang agaknya berbenturan. Berbeda jauh. Saya sudah tidak terbiasa dengan cara berpikir orang-orang di kampung kami, sementara cara berpikir calon istri demikian. Cara hidup, cara memandang kehidupan, pemikiran, kebiasaan, hampir semua berbeda. Satu saja yang sama pada kami berdua: takzim penuh pada titah orang tua dan sangat mencintai mereka sehingga tidak pernah ingin menyakiti perasaannya. Itulah mengapa kemudian kami sama-sama mencoba saling memahami, memantaskan dan mencocokkan diri. Terkadang saya harus kembali pada cara berpikirnya, paling sering dia harus berlari mengejar cara berpikir saya.

Menjelang hari pernikahan, keraguan semakin ternganga. Emosi saya tidak stabil sebab kelelahan bekerja dan berpikir banyak hal. Untung saja saat itu calon istri saya bisa tenang dan tidak berusaha terlalu keras menenangkan saya. Dia telah tahu banyak tentang saya, tentu saja.

Jelang mengucap ijab kabul, saya kehabisan cinta untuk kekasih yang duduk tunduk di depan mata. Yang akan saya terima nikahnya. Mutlak hilang. Semua. Saya berpikir apakah itu waktu yang tepat? Maksudnya, apakah saya sudah benar-benar siap? Ya, saya siap. Lagipula jika detik sakral itu batal, malu semua yang tiba. Dan saya terlanjur menanamkan pada diri, daripada malu lebih baik mati.

Ijab kabul terlafaz. Semesta mencatat nama istri berdampingan dengan nama saya di buku jodoh Rabbana. Ketika ucap sah terdengar dari saksi, cinta saya tumbuh lagi. Merekah, berseri-seri. Setelah itu, satu persatu keraguan punah dari hati. Keyakinan saya tumbuh seperti sediakala lagi.

Tidak. Kamu tidak boleh tunduk pada keraguan: itu campur tangan setan agar agamamu tidak tersempurnakan. Menikahlah jika sudah siap lahir batin. Perkara rezeki, semua sudah diatur oleh Rabbi. Kamu tidak perlu menjengkal-jengkal sendiri.