Honeymoon dan Hikmah Gulistan

Istriku, seperti perempuan umumnya adalah pengingat yang teguh pada janji yang terlanjur, pada hadiah yang belum, pada kemestian-kemestian yang luput, pada sekali silap yang pernah membuat ia hampir semaput. Dan aku, seperti suami kebanyakan adalah lelaki pelupa pada janji-janji kecil, teledor pada hal-hal biasa, serta sering abai pada keadaan yang memungkinkan istri kesal hingga amarahnya tersulut. Contohnya janji bermain ke Sabang ini.

Saya benar-benar lupa pernah mengucapkannya: mengirimkan ia pesan semacam mengamankan keadaan, iya nanti kita kemari. Tapi istri saya tidak–ia tidak lupa dan tidak menganggap pesan itu sebatas jawaban hiburan belaka. Ia masih menyimpan pesan lama tersebut dan menagihnya beberapa waktu lalu. Sementara ia tahu jadwal kerjaku di kantor sedang tidak banyak menuntut, apa dayaku?

Istriku melingkari tanggal awal Oktober, setelah dipastikan jadwal show dan kerja kantorku. Ia sama sekali tidak tahu bahwa tanggal-tanggal awal bukanlah masa tersenyum di kantor kami. Itu waktu kerja. Lazimnya di sini, senyum akan mekar di pertengahan bulan nantinya. Namun tanggal yang dilingkari itu tidak boleh diganti. Beberapa tawaran menunggu di waktu yang tidak begitu jauh, takutnya kesibukan itu nantinya akan membuat kesempatan bermain kami semakin sempit. Dan lagi pun selagi masih baru-baru, main-main bisa disebut bulan madu. Jika sudah lama, bermain-main bersama istri sudah berganti sebutan, menjadi liburan belaka.

Tidak dalam masa gaji kantor, isi rekening baru saja terkuras untuk pesta pernikahan tempo waktu, itu membuatku harus lekas memutar pikir. Kebutuhan biaya untuk main-main yang tenang akan sangat besar. Namun bagaimana pun, kita tidak boleh patah arang, lemah harapan. Aku ingat ada satu ruang yang bisa diandalkan sebagai bekal tambahan, yaitu hikmah pernah jadi seorang Steemian yang rajin mengisi taman mawar.

Aku meminta @amekbarli mencairkan sebagian kecil dari isi dompet @gulistan. Tidak begitu banyak yang kami dapatkan, namun cukup untuk membuat tenang kala kami menikmati masa tumpah ruah kebahagiaan. Setidaknya istriku bisa lebih leluasa bermanja, tidak ragu-ragu meminta meski ia juga penuh pertimbangan ketika akan mengutarakan kehendaknya.

Betapa menyenangkan menghabiskan hasil akal di @gulistan untuk bersenang-senang dengan orang yang pantas dibagi kesenangan. Betapa aku telah merasakan hikmah indah menjadi seorang Steemian yang baik, rajin dan hemat menjaga tabungan. Dan @gulistan telah menyelamatkan aku di saat yang tepat.

Aku membayangkan andai dulu tidak rajin membuat postingan, tentu saja dalam keadaan ini kami agak kelimpungan, tidak punya satu pintu tambah untuk keluar dari persoalan. Maka, begitulah, handai taulan. Mari kembali bersemangat, menulis dan menabung di akun Steemit masing-masing. Percayalah, setiap yang dilakukan sungguh-sungguh, akan memberikan hasil yang menyenangkan hati. Mari nikmati setiap sensasi platform ini.