Teman-Temanmu Tetaplah Teman-Temanmu

Teman-temanmu tetaplah teman-temanmu, meski ia sudah bertubuh jauh. Walau sudah berbeda bangga, tak sama keluh. Ia tetap sebagai tempat kau berkabar, tempat berteduh bila butuh. Teman-temanmu mungkin akan berdiri di sama pijak, meski beda tapak. Namun kelak, hanya kelak, beberapa bagian hidup akan membuat kalian berjarak. Semakin berjarak dan berjarak.

Teman-temanmu punya hidup dan cara pikir. Suatu pagi ketika kau terjaga dan membuka media sosial telah kau temukan ia menghujat suatu keadaan di mana kau malah memujinya. Ternyata beda cara pikir kalian dan cara tangkap mata pada suatu kenyataan kehidupan. Barangkali sebab perbedaan muasal. Beda ilmu yang dituntut. Beda cara paham.

Kemarin kamu begitu bangga melihat Khabib menang melawan McGregor. Kau kira itulah jihad Khabib. Ia bela agama dari seorang penghina. Tapi temanmu, dia malah melihat sisi olahraga yang dilakukan Khabib sebagai sebuah keharaman. Dan baginya, Kabib hanya bertanding di pertandingan yang mestinya (menurut pemahaman agama temanmu) itu diharamkan agama. Di sudut rumah kau tersenyum getir antara mengira betapa sempitnya pemahaman temanmu (menurutmu) dan betapa menyedihkan cara ia berpikir.

Kamu tidak sepakat dengannya. Namun tidak juga kamu bersikeras mendebat ia. Di rimba media sosial, siapa pun bisa menjadi singa yang dengan gagah berani menerkam mangsa. Namun di kehidupan nyata, kamu tahu bahwa tidak semua orang bisa dengan gagah menyampaikan isi pikirannya. Kamu akan melupakan argumen temanmu tersebut. Di hati kamu menyimpan satu hal, bahwa di bagian pemahaman tertentu, dengannya kamu tidak bisa sepakat. Dia tetap teman. Tapi tidak di semua tempat.

Menjelang siang, kamu kembali menemukan fakta. Disampaikan oleh temanmu lainnya. Perkara Miftahul Jannah yang menolak bertanding olahraga judo karena dipaksa melepaskan hijab. Betapa kamu bangga dengan pilihan gadis kecil itu. Dia menjaga marwahnya dengan teguh. Haru biru hatimu. Andai kau mampu, akan kau beri ia sedikit kekuatan serupa yang ia inginkan. Demi menambah isi hatinya dengan kebahagiaan.

Namun kamu tersedak manakala seorang perempuan yang selama ini kau banggakan sebab luas akalnya malah menyinyir sinis sikap gadis kecil tersebut. Tidak disebutkan untuk Miftah, namun sebab baru saja gadis kecil tersebut yang mempertahankan hijab, setidaknya menyentil ke sana. Katanya, tidak bisa dinilai sucinya seseorang dari hijab yang ia kenakan.

Baiklah, itu sekilas benar. Tapi setidaknya seorang muslimah yang berhijab telah menjaga satu kewajiban di atasnya. Baik buruknya seseorang memang tidak mutlak dinilai dari pakaian. Tapi pakaian membuat seseorang bisa dinilai baik atau tidak. Kamu tidak sepakat dengan temanmu itu. Sudah sekian kali kamu berseberangan pikiran dengannya. Tapi ia tetap temanmu. Berbeda pikir di sana, ada tempat lain yang sama. Kamu tidak perlu menghantam dia dengan perbagai pikiran. Itu hanya akan menjarakkan. Cukup diam dan abai.

Teman-temanmu meski sudah tidak berkabar dan tak lagi berbagi akal, tetaplah teman-temanmu. Mereka akan menjadi solusi pada ketika kau inginkan. Tidak harus sekarang, ada masanya mereka dibutuhkan. Kamu harus tenang menghadapi berbagai cara mereka menyampaikan gagasan. Teman-temanmu tetaplah teman-temanmu yang bila kau berhasil akan menjadi semangat, bila kau musibah akan memberikanmu kekuatan. Meski sebatas ucapan di media sosial.