Zu, Khayalan dan Buku

Kita hanya memiliki dua pilihan, Zu: menjadi kenangan yang pelan abai atau abadi dalam catatan. Tentu saja kamu berharap mendapatkan keadaan yang kedua, bukan? Aku juga. Apa? Kau tidak pernah memikirkannya? Ternyata kamu sama saja dengan banyak orang biasa yang merasa bahwa hidup hanya sebatas mendapatkan ketenangan di masa depan tanpa perlu meninggalkan kenangan berupa catatan di kepala banyak orang. Kalau demikian, kita berbeda. Aku hidup untuk ketenangan sekelindan untuk dikenang sebagai sebaik-baik kenangan.

Kamu sering berkata bahwa perjalanan mencari menjadi abadi dalam ingatan banyak orang adalah sia-sia. Kamu melukai perasaanku, sebenarnya. Bagimu, hidup adalah tentang menyelamatkan masa depan. Apa yang harus diselamatkan, Zu? Setiap masa tiba dengan selamat dan kita tentu saja akan terus selamat jika masih berkesempatan tiba di masa itu. Maksudku begini. Bagaimana mungkin seseorang yang tidak selamat bisa tiba di masa depan? Orang-orang tidak selamat berarti habis sudah. Musnah. Jadi noktah. Menyatu dengan muasalnya: tanah! Sementara yang bisa tiba di masa depan adalah orang-orang yang selamat belaka. Itu pasti. Tentu saja.

Baiklah, Zu, baiklah. Aku tahu maksud kata “selamat” yang ada di benakmu. Kita tidak akan menderita, tidak melara, tidak sengsara. Baiklah, aku terima. Tapi bagaimana aku bisa bahagia jika keinginan terbesarku menjadi sebaik-baik kenangan di kepala banyak orang tidak tercapai hingga masa tua? Dan bagaimana kamu bisa yakin betul jika aku menuruti hasratku tersebut kelak kita akan menderita? Bagaimana kalau semesta berkehendak lain, misalnya? Katakanlah sembari mengejar nafsu tersebut, disisipkan pula untukku di dalamnya kelayakan hidup? Kamu yakin tidak akan ada keajaiban semacam itu?

Ayolah, Zu, kita tidak boleh menjengkal-jengkal kuasa Tuhan. Biarkan takdir bergulir sesuai keinginan. Sementara di ruang harap kita harus terus menyimpan kekuatan. Di lain kenyataan kita akan berusaha mencegah lara kehidupan di masa depan.

Kamu tidak pernah sepakat denganku perihal ini. Dari dulu dan setiap hari. Kamu tidak pernah kehabisan tenaga menaksir kuasa ilahi. Sementara aku selalu percaya segalanya mungkin saja terjadi. Keajaiban itu ada, sebab kuasa Rabbana tidak pernah bisa diterka. Bayangkan seseorang terdampar berhari bulan di tengah lautan masih hidup dan berhasil diselamatkan. Ada. Jika dipikir-pikir dengan logika biasa, itu tidak masuk akal. Tapi memang ada. Fakta.

“Aku muak berbicara dengan pengkhayal,” katamu sembari menghantam meja di ruang kerjaku. Kau pungut dua buku bacaan yang tadi hendak kau berikan untukku. Aku tidak terkejut dengan cara kamu pergi, tidak sedih dan tidak pula patah hati. Yang membuat aku kesal, mengapa kau ambil lagi buku yang hendak kau pinjamkan untukku tadi? Itu buku langka. Kebetulan dijual online di salah satu akun belanja maya.

Baiklah, Zu. Aku tidak akan berbicara padamu tentang keajaiban lagi. Pertama sebab kau melihat hidup sepasti-pastinya, sehingga cakrawala keyakinanmu pada kemungkinan takdir Tuhan tidak lebar terbuka. Kedua, sebab berdebat denganmu selalu berakhir sia-sia. Jika kau menang, kau akan mengatakan aku lemah akal. Jika kau kalah, seperti ini, kau hantam meja lalu pergi sambil membawa buku yang hendak kupinjam.

Baiklah, nanti aku tidak akan bergantung harap padamu lagi perkara buku-buku bagus yang harus dipesan melalui akun jual beli. Dalam detik ini aku akan mendaftarkan diri punya akun belanja online pribadi. Kalau nanti belanja banyakku dapat bonus, aku akan datang padamu sembari bernyanyi. Shoooli li lililili Sholililili.