Nama-Nama Keren Orang Kampung Kami

Nama keren adalah nama atau gelar atau sebutan yang dibuat seseorang terhadap dirinya sendiri sebagai upaya memperindah sebutan nama asli seperti tertera di ijazah dan kartu pengenal lain. Nama-nama ini muncul bukanlah sebab mereka tidak menghargai nama sendiri, saya yakin. Tapi faktanya semua orang kerap menginginkan sesuatu yang lebih dalam hidup ini dan kerap suka memperindah-indah apa yang sudah dasarnya dimiliki. Bahkan menyangkut panggilan. Kau memiliki nama pena, nama artis, nama media, nama panggung, dan berbagai nama lainnya untuk menyatakan bahwa kamu unik dan berbeda.

Pada masa lalu di kampung kami ada sebuah gelombang radio yang tiap malam Jumat membuka layanan berpantun Aceh. Agar pantunmu dibacakan dalam program tersebut, kau harus membeli kupon di Blang Pidie dan jika perlu memberi nama samaran yang lucu, aneh, dan unik agar mudah dikenal. Di sanalah awal saya mendengar nama keren seperti Pak Nas, Rado Cobra, dan Bang Jampang Dua.

Setelah masa radio dan baca kupon itu tergerus, kampung kami dirasuki budaya keyboard atau organ tunggal. Nama paling tenar di Kuta Bakdrien saat itu adalah Jas Li Sandova serta pasangan duet abadinya, Sonia. Lantas masa organ tunggal pun berakhir. Nama-nama keren bikinan diri sendiri tidak lagi begitu banyak diketahui. Jika pun ada, barangkali hanya ditulis sendiri di kulit-kulit buku catatan sendiri. Atau hanya berkisar panggilan biasa belaka oleh orang tertentu saja.

Lalu, seperti juga di tempat saudara, Kuta Bak Drien dijamah oleh media sosial. Dan media sosial semacam Facebook ini ternyata berhasil menjelaskan satu hal paling penting yang selama ini saya pertanyakan pada diri sendiri. Apa yang unik dari Kuta Bakdrien?

Jawab: bahwa seberapa pun jauh zaman berubah, ada hal yang tidak pernah bisa dijamah. Di Kuta Bak Drien, zaman tidak bisa merusak kebiasan kami memberikan nama-nama keren terhadap diri kami sendiri. Sebagai bukti, cobalah baca nama-nama akun Facebook tersebut: Dhimas Steven, Chakar Dongkrak, Captaint Vodjand, Bang Toyib, Takok Mareh, Goesty Purmawanda Randa, Angkasa Ferdian, Maxs Webell D’Scorpioenkinks, Adi Suandra, Ajuwir D’senja, IlhAm Erorr, Munawir Zie, Dek Coy, T Rijal Al-bahar, Djoelcha Zie Edjoel, Awie Abdya, Erwanda Komuya, Mizie Aneuk Bathat Tungang, dan masih banyak yang tidak tersebutkan.

Kampung kami memang berbeda jika dilihat dari segi memperindah-indah nama. Beda dengan beberapa kampung lain yang lebih membanggakan status mereka sebagai anak kampung tersebut. Katakanlah nama kampung mereka Padang Bala. Pasti nama kesatuan pemuda di kampung tersebut: Andespaba alias anak desa Padang Bala. Dan bila mereka membuat akun media sosial, nama utama mereka akan digabungkan dengan nama kesatuan tersebut, misal, Adi Andespaba. Terlalu mencolok dan biasa saja.

Adapun di sebuah kampung lain yang dekat-dekat dengan kampung kami, kebiasaan mereka memperindah nama lebih Arabian. Semua nama menggunakan nama tengah Al dan bin. Misal Zainun Al Lorong Tunong, Sudirman Al Bak Kulu, Abdul Manaf Ar Rumohi Puteh, Khairul bin Badawi, Maksum bin Tikom. Pokoknya ketika membaca namanya, bayangan kita langsung tertuju ke Timur Tengah. Padahal tak ada satu orang pun dari mereka yang fasih bertutur bahasa Arab.

 

Begitulah di kampung kami. Bagaimana di kampung kalian?