Seragam dan Kantor Orang-Orang yang Salah

Ternyata benar, seragam dan kantor itu (jika diberi pada yang salah) semata-mata hanyalah jalan pemuda menipu calon mertua dan jalan orang tua menipu keluarganya. Setidaknya ini yang dijelaskan oleh mata dan kepala saya kepada saya tempo waktu.

Siang tadi, seorang polisi menilang dua gadis gegara tak pakai helm di lampu merah dekat Baiturrahman. Polisi itu meminta mereka memperlihatkan STNK, SIM, dan KTP. Hubungan antara helm dengan surat-surat itu apa coba? Sayup saya dengar perempuan itu tak mau membayar uang tilang. Polisi tersebut dengan tegas menyatakan bahwa motor mereka akan disita, diselesaikan di pengadilan saja. Aduh, kok nampak sekayak nyari-nyari kerjaan tambahan ya? Cuma perkara helm seharga 150 ribu harus melibatkan banyak orang dan banyak waktu. Berseragam, berkantor, berpangkat, namun begonya berat.

Sementara itu terjadi kepala saya segera lepas liar mengali-kali. Barangkali apa yang dilakukan polisi muda tersebut adalah upaya berbagi kerja dan rezeki. Bisa jadi. Dengan adanya pengendara yang tertilang, maka bergunalah adanya beberapa pekerjaan. Pertama, polisi yang menilang: tentu saja. Sungguh menilang lebih baik daripada hanya ongkang-ongkang kaki di kantor, lalu di awal bulan dapat gaji. Gaji tanpa kerja bukan gaji yang baik, syubhat. Dengan menilang pengendara nakal, itu artinya mereka sudah punya pekerjaan sehingga gaji yang mereka dapatkan nanti sudah tergolong gaji baik.

Setelah itu, yang mendapatkan pekerjaan dan rezeki dari hal tilang menilang itu adalah pengendara mobil yang mengangkut motor-motor yang ditilang. Kalau sudah banyak yang tertilang, tentu saja tak cukup mobil polisi untuk membawanya ke kantor dan atau pengadilan. Mesti pakai jasa lain. Itu kalau polisinya tidak pelit. Selanjutnya, orang pengadilan. Sebelum ke pengadilan ada pengendara mobil angkutan umum. Pokoknya berantai dia. Hmmm, baiklah, ada baiknya juga perkara tilang menilang ini.

Kasus salah beri seragam juga terjadi beberapa waktu sebelumnya. Seorang teman saya sedang membutuhkan seorang petinggi (pegawai dengan pangkat tinggi) di kampusnya. Kata anak buah petinggi tersebut, beliau sedang keluar sebentar bertemu seorang yang pangkatnya lebih tinggi. Teman saya bolak-balek tiga kali ke kantornya, jawaban anak buahnya sama.

Lalu teman saya memutuskan ke kantin lain, tidak di kantin fakultasnya. Sialan, lelaki yang dia cari itu ternyata di sana, sedang duduk bercengkerama bersama rekan-rekannya. Membual saja, bercanda macam remaja. Teman saya tanya ke salah seorang pekerja kantin itu. Katanya, lelaki yang dia cari sudah di sana sejak jam yang sama ketika dicari ia pertama kali. Celaka. Jahat luar biasa. Sementara anak buah lelaki yang dicari tersebut kecipratan celaka serta dosa demi melindungi atasannya. Celaka!

Sebab percaya kekuatan seragam, seorang teman saya bertekad berjuang penuh pada tes PNS yang sedang dibuka. Katanya, jika kelak ia lulus, pertama-tama akan diambilnya kredit di bank untuk modal serta membeli mahar lalu meminang kekasihnya. Selama ini ia dianggap belum pantas beristrikan kekasihnya tersebut sebab belum punya pegangan hidup dalam makna belum jadi pegawai.

Maka motivasi teman saya untuk lulus besar sekali. Bahkan keyakinannya sudah tahap ngeri. Haqqul yakin akan lulus. Sampai-sampai telah dijahitnya baju seragam. Katanya sebagai persiapan total. Jika kelak ia benar-benar lulus, dengan seragam itu ia akan datang ke rumah calon mertua, melamar dengan seragam itu pula. Saya bertanya, bagaimana jika ia tidak lulus? Dia menatap saya dengan kesal. Ditunjuknya muka saya sambil lantang berkata, “kau bukan Tuhan. Jadi jangan menduga-duga nasibku. Paham!”

Huuufft. Gila seragam membuat temanku itu menjelma jadi lelaki kasar.