Lilin atawa Bohlam?

Di dunia ini, selain kepada Tuhan dan siri sendiri atas kuasa-Nya, kepada siapatah lagi yang bisa digantung asa? Kepada lain manusia, tidak bisa. Sama sekali tidak bisa. Meski ia adalah teman paling baikmu, meski ia pasangan paling setiamu. Sebab manusia, sebaik apa pun ia, tetap memiliki tujuan dan jalan sendiri. Maka ada kalanya ia tidak bersamamu, tidak untukmu, tidak memperjuangkan yang kau tuju. Dan sebaik apa pun ia sebagai teman, tetaplah ia akan (dan memang logisnya harus) mengutamakan dirinya terlebih dahulu. Meskipun terkadang (sebab ia baik) ia tidak tega melepaskan kamu berjuang sendirian, tetap ditemani sebagai teman yang siaga memberi pertolongan serta perhatian.

Seorang lelaki paruh baya menemuiku beberapa hari lalu untuk menyampaikan ini. Kusampaikan padamu pula agar kau bisa pelajari. Bahwa pada titik normal seorang manusia, ia tidak akan menjelma lilin dalam peri kehidupan manusiawi. Tidak akan membakar diri demi memberi terang padamu. Barangkali ia bisa menjadi bohlam yang agar menerangimu kau juga harus punya sesuatu semacam alasan ia menyala. Harus punya token atau uang rekening, harus dijaga agar tidak terbentur: keras terbentur, bohlam akan menjadi beling.

Kamu lilin atau bohlam? Keduanya sama-sama mulia demi memberi terang. Tidak, kamu tidak perlu menjadi lilin sebab kamu manusiawi, rasional, logis dan realistis. Kamu tidak ingin mati hanya demi orang lain hidup, bukan? Barangkali kamu mampu menahan diri sampai pada titik panas membara, tapi pelan untuk pasti mati terbakar, bukan pilihan yang baik rasanya.

Jadilah bohlam saja. Sebab kamu manusiawi, rasional, logis dan realistis. Sebab di sana ada saling menghidupkan. Kamu memberi, kamu menerima. Kamu tidak boleh hanya memberi belaka sebab tidak indah pula hanya menerima saja. Kamu harus berjuang dengan alasan-alasan dan tujuan. Untuk itu barangkali tidak terlalu imbang. Sebab adil tidak dilihat dari jumlah sama besar, sama ukuran, melainkan sesuai dengan kebutuhan dan bagian yang dikerjakan.

Itu pula yang mestinya membuatmu berpikir agar tidak terlalu menggantungkan harapan. Pada siapa saja. Maksudnya, jangan keterlaluan. Memberikan kepercayaan, boleh. Berharap berlebihan, jangan. Dalam hal apa saja. Konon lagi dalam peri asmaraloka. Seorang kawanku baru saja merasakan luka perih menganga. Sebab seorang yang dicintai dan diberikan penuh harapan ternyata disunting lain siluman. Ah, sudahlah. Perih hidup si kawan. Semoga ia tabah dan sabar. Hihihi