Jalan Masa Depan

Sepuluh ribu lelaki berdiri di depan jendela kaca yang sedang berembun hujan. Menyusupkan pandang, mencari-cari celah dan kode kesempatan meloncat ke jalan masa depan. Mereka konon yakin sudah berhasil menggenggam kerah baju waktu yang sekarang sembari mengatakan, “Persetan, lawan dan kawan akan kusingkirkan!”. Dan mereka tendang muka masa lalu yang sembab pilu sembari berujar,”selamat tinggal, kenangan, selamat meneguk peluh yang akan kucampakkan!”.

Kau masih duduk di bangku bangka gudang penuh gambar tua. Ini hari ke enam. Terlalu lama kau menyiapkan kesadaran. Berulang kali kau tatap buku harian bersampul kesumba. Buku yang padat dengan catatan lama. Matamu berkaca dan hatimu memaksa untuk berkata, “sudahlah, barangkali inilah waktunya”.

Tapi kau tidak bisa menyelesaikan segala sesuatu dengan memaksa. Tidak. Tidak pernah bisa dan memang kau menolak belajar agar bisa. Kau mencari-cari kesadaran di kardus, di bawah meja, di kaki meja, di bawah tilam, di saku baju ala jenderal, di dalam kotak besi bekas jamu melahirkan. Tapi kau mesti kembali ke hatimu setelah sekian lama mencari. Waktu memang tidak akan pernah kembali ke pangkal ingatan yang jauh sekali.

Pagi tadi, ketika hujan jatuh bertali, kau terjaga sedikit telat. Entah sebab apa, kau ingat seribu lelaki yang berdiri di depan kaca berembun hujan. Kau pun bergegas lari menuju kerumunan. Berdiri berdesak-desakan di depan kaca berembun hujan. Seperti orang-orang, kau melihat jalan bertikungan-tikungan. Berkelok kampung, menikung rimba, menurun, menaik, menyemak, berkelindan. Itu jalan? Jalan masa depan?

Kau tidak pernah yakin akan menempuhnya. Selain kerdil, jalan itu penuh onak. Batu-batu tajam di sela genang terlihat bercula-cula. Runcing menanti mangsa. Namun sepuluh  ribu lelaki di sekelilingmu memasang wajah kehendak bahagia. Seolah batu-batu itu adalah mutiara. Onak itu adalah remah permata. Celaka. Mereka sudah tidak bisa menggunakan dengan baik kedua matanya.

Sepuluh ribu lelaki di hadapan kaca berembun hujan, manakala kaca itu agak terang segera memajukan wajah mereka. Seolah-olah ingin sekali mengetahui takdir buruknya sendiri, sejak dini. Apakah jika yang terlihat hanyalah kekejaman mereka akan meradang? Mundur pelan lalu membalikkan arah susuran? Tidak. Sekalipun mati di langkah-langkah awal serupa pion utama yang dimangsa, hati mereka tetap teguh pada jalan di balik kaca berembun hujan. Itu akan membuat mereka terhormat, mungkin. Dianggap sebagai pejuang.

Sementara kamu? Begitu melihat cula batu, serta merta membuncah ragu. Kau atur pelan-pelan langkah berbalik. Menatap semua simpang yang memungkinkan akan membawamu ke arah tujuan. Jalan masa depan.

Dan bagimu, jalan baik masa depan tidak mesti yang ditempuh bersama sama dengan semua orang. Kamu telah menulis di buku bersampul kesumba. Jalanmu adalah susuran di bawah lindung restu semesta raya. Kau akan ke sana.