Pemeluk Celaka

Jika bukan karena cinta, tak ‘kan kutangisi puing rumahnya.
(Qasidah Burdah)

Katanya, ia telah memeluk sejak kenal semesta. Ia pelajari setiap sendi dekapan, setiap denyutan lalu jadilah ia yang sekarang. Katanya, ia mencintai yang di pelukan. Cinta yang besar dan normal. Cinta berlandas sehat akal. Begitulah ia sekarang. Pemeluk yang katanya penuh cinta dan kenormalan.

Bagaimana mungkin kamu bisa mengaku dirimu pemeluk penuh cinta sementara ketika yang kau peluk itu dihina, diberi luka, kau malah tidak membela. Diam saja? Sungguh, itu cinta se-bulshit-bulshit-nya. Malah lagi, kau buat aku tertawa, bila ada yang membela isi pelukanmu entah sebab cinta atau iba, kau meradang tak menentu. Meletakkan akal seolah-olah paling luhur.

Nyata sudah, usah kau peluk aku. Sebab telah kutahu bagaimana cintamu. Nyata sudah. Usah banyak lagu. Telah kudengar sumbang suara dan lantun tutur yang menyembunyikan belati itu. Begitukah peluk penuh damai cinta? Sungguh jika begitu aku tidak akan berani mabuk asmaraloka. Sebab jika cinta adalah pengabaian, bagaimakah lagi yang disebut pendustaan?

Yang kau peluk itu adalah sebaik-baik limpahan semesta raya. Mengapa kau mendustakannya? Kau kata tidak? Dua kali sudah kau dusta. Sekarang mestikah kuserang kepalamu dengan ucap: jika kau bisa menganggap seorang berbaju ungu sebagai hal biasa saja, sulitkah bagimu menganggap orang yang berbaju hitam juga boleh adanya? Mengapa harus menyerang sebagian yang dengan kepalamu berseberangan? Kau pandai berbicara kemerdekaan, sementara kepalamu penuh pertikaian. Dan tentang pelukan. Ah, kau sudah keterlaluan.

Aku telah mendengar suaramu dan mengulang-ulang mendengarnya. Kupelajari setiap kata. Kau bukan pecinta. Kau seorang yang mengaku kekasih, tapi nyatanya pendusta. Nyata-nyata kau telah mendustai pelukan, yang juga telah memelukmu untuk keselamatan. Kau pemeluk sialan. Kekasih yang khianat dan sulit diampunkan. Tidak, aku tidak menuduh dan menerka kau akan dihakimi oleh Pemilik yang meminjamkanmu pelukan. Tapi kau, bagiku dan untukku, tidak kuampunkan. Tidak akan!